Pantura Cirebon Terancam Kembali Lumpuh

Ahmad Rofahan    •    Rabu, 12 Oct 2016 18:12 WIB
unjuk rasa
Pantura Cirebon Terancam Kembali Lumpuh
Salah satu pengunjuk rasa berorasi di gerbang proyek PLTU II Cirebon, Jabar, Rabu (12/10/2016). (Metrotvnews.com/Ahmad Rofahan)

Metrotvnews.com, Cirebon: Lalu lintas ruas Pantura di Cirebon, Jawa Barat, terancam kembali macet. Pasalnya, massa yang menamakan diri Forum Rempug Desa (FRD) bakal terus menggelar aksi di kawasan proyek pembangunan PLTU II Cirebon.

Pada unjuk rasa ketiga kalinya, hari ini, Rabu, 12 Oktober, massa kembali menutup jalur utara Pulau Jawa itu. Massa juga kembali membakar ban bekas di Pantura Cirebon.

Antrean kendaraan sempat mengular hingga beberapa kilometer. Bahkan polisi terpaksa memberlakukan sistem lawan arah untuk mengurai kemacetan.

"Kami akan terus melakukan aksi lanjutan,” ujar Zaenuddin, koordinator aksi. (Baca: Lagi, Pantura Cirebon Ditutup Demonstran)

Alasannya, selama demonstrasi tiga hari terakhir, tak satu pun perwakilan manajemen menemui mereka. Padahal, mereka ingin meminta pertanggungjawaban pengelola PLTU. 

“Kita meminta jaminan keberlangsungan hidup, akibat dampak adanya PLTU,” tutur Zaenuddin.

Dia mengklaim masyarakat di sekitar PLTU merasakan polusi dari hasil pembangkit berbahan bakar batu bara tersebut. Zaenuddin mencontohkan, suhu di sekitar PLTU berubah menjadi panas, jika malam hari. Hal tersebut merupakan salah satu dampak dari adanya PLTU.

“Kalau malam panas sekali, ini merupakan dampak PLTU,” tuding Zaenuddin.

Hingga sore, para demonstran mengaku belum ditemui manajemen. Mereka akhirnya membubarkan diri setelah merantai pintu gerbang proyek PLTU II Cirebon.

"Kami sama sekali tidak ditemui. Mereka mengaku sedang berada di Jakarta," katanya sambil bilang akan melakukan aksi lanjutan, besok.

Aksi ini merupakan unjuk rasa ketiga kalinya dalam tiga hari berturut-turut. Dalam setiap aksi, massa selalu memblokade jalur Pantura. 

Baca: Ratusan Warga Demo PLTU, Pantura Cirebon Lumpuh

Selain mengusung pencemaran lingkungan, massa juga menuntut kesehatan gratis dan meminta PLTU mempekerjakan warga lokal.


(SAN)