Warisan Budaya

Cioko, Tradisi Warga Tionghoa Berbagi Kebaikan dengan Leluhur

Hendrik Simorangkir    •    Jumat, 07 Sep 2018 15:47 WIB
warisan budaya
<i>Cioko</i>, Tradisi Warga Tionghoa Berbagi Kebaikan dengan Leluhur
Warga Tionghoa membakar perahu dalam prosesi Ulambana di Vihara Boen San Bio, Pasar Baru, Kota Tangerang, Banten, Medcom.id - Hendrik Simorangkir

Tangerang: Ratusan warga Tionghoa melakukan ibadah perayaan Ulambana atau Cioko di Vihara Boen San Bio, Pasar Baru, Kota Tangerang, Banten. Ibadah tersebut dilakukan untuk mengundang para arwah di alam baka ikut menikmati jasa kebaikan dari orang yang masih hidup dilimpahkan dan mendapat kebahagiaan karena telah didoakan. 

Ketua pelaksana kegiatan upacara perayaan Ulambana Niman mengatakan, upacara ini diikuti oleh warga Tionghoa bersama keluarga atau leluhurnya belum disembahyangkan, sebab jenazah belum ditemukan.

"Semua yang dihantarkan oleh umat berbentuk kertas yang telah didoakan oleh para biksu dan diletakkan di dalam perahu sebagai simbolis untuk mendoakan keluarga mereka. Nantinya perahu tersebut akan dibakar bersama patung Raja Setan atau Bun Tay Siu secara bersamaan untuk mengiringi arwah gentayangan menuju yang lebih baik," ujar Niman di Vihara Boen San Bio, Rabu 5 September 2018. 

Niman menjelaskan, patung dan miniatur perahu itu semuanya terbuat dari kertas dan berkerangka kayu. Nantinya, perahu tersebut akan dibakar hingga habis sehingga menghasilkan debu yang berterbangan di udara.

"Semua keluarga yang akan menghantarkan untuk leluhurnya harus menyaksikan pembakaran tersebut. Ibarat seperti mengantarkan arwah leluhur dan kelurga ke alam sana disertai dengan doa," kata Niman.

Pedoa dari Tangerang Liviana mengatakan, kehadirannya dalam upacara tersebut untuk mendoakan para leluhurnya agar bisa tenang di alam selanjutnya. 

"Saya datang membawa pakaian dan uang. Tapi itu semua dalam bentuk kertas yang telah didoakan oleh biksu. Tujuannya agar para leluhur saya mulai dari cici hingga engkong, mendapatkan tempat yang nyaman di alam lain," jelas Liviana. 

Di upacara tersebut, terdapat patung Dewa Setan atau Bun Tay Siu berwarna hitam dengan tinggi 5 meter sambil memegang sejenis tongkat panjang pada tangan kanannya. 

Di sebelah patung Dewa Setan, berdiri kokoh pula miniatur perahu berwarna kuning sepanjang tujuh meter yang telah dihiasi oleh berbagai tulisan doa. 

Nantinya, kapal yang sudah ditempeli nama-nama arwah warga Tionghoa yang terlantar dan akan mengantarkan mereka ke alam yang lebih baik lagi.

Sebelum prosesi puncak tersebut berlangsung, para keluarga dipandu berdoa yang dipimpin sembilan biksu sambil memanjatkan doa.

Mereka berdoa di hadapan patung Dewa Setan atau Bun Tay Siu, kemudian berkeliling sembilan altar yang dihuni sembilan patung dewa yang nantinya akan dibakar.



(RRN)