Kadishub Bandung: Kewenangan Taksi Basis Aplikasi Ada di Pusat

Roni Kurniawan    •    Rabu, 02 Nov 2016 15:32 WIB
taksi online
Kadishub Bandung: Kewenangan Taksi Basis Aplikasi Ada di Pusat
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Didi Ruswandi. (Foto-foto: Metrotvnews.com/Roni Kurniawan)

Metrotvnews.com, Bandung: Ribuan sopir taksi masih bertahan di Balai Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu, 2 November. Mereka menuntut pemberhentian taksi berpelat hitam dengan basis aplikasi.

Mereka berkukuh menyampaikan langsung tuntutan itu kepada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Namun, upaya mereka bertemu wali kota, gagal. Pria yang akrab disapa Emil itu sedang di Jakarta.

Baca: Sopir Taksi Tagih Janji Pemkot Tertibkan Taksi Online

Ribuan sopir pun akhirnya ditemui Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Didi Ruswandi.

Kepada para pendemo, Didi menjelaskan, kewenangan mengatur taksi berbasis aplikasi ada di pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Perhubungan. Regulasi tersebut diatur dalam Permenhub Nomor 32 Tahun 2016.

Berdasar aturan itu, kata Didi, semua taksi berbasis aplikasi yang beroperasi harus memenuhi semua persyaratan seperti taksi konvensional. Yakni, berbadan hukum, memiliki pool, dan mobil harus diuji KIR. Aturan tersebut harus dipenuhi per 1 Oktober 2016.

Baca: Sopir Taksi Tuding Emil Lindungi Taksi Online

Belakangan, Kemenhub memperpanjang waktu untuk memenuhi seluruh persyaratan selama enam bulan hingga April 2017. "Kecuali untuk perubahan dari pribadi ke badan hukum, itu satu tahun. Artinya dengan surat itu masih dibolehkan (beroperasi)," kata Didi.

Bila kendaraan memenuhi syarat tersebut, taksi dianggap legal. Sebaliknya, jadi ilegal bila semua syarat tak dipenuhi.


Sopir taksi konvensional berjalan kaki menuju Balaikota Bandung, Jabar, Rabu (2/11/2016).

"Sebetulnya, kalau dari segi regulasi, kewenangan itu bukan di (pemerintah) kota, dan mereka (sopir taksi) sudah tahu," kata Didi.

Didi mengaku, hingga saat ini pihaknya belum bisa melakukan tindakan lebih jauh terkait masih beroperasinya taksi berbasis aplikasi tersebut. 

Baca: Ribuan Sopir Taksi Longmarch, Bandung Padat

Guna meredam gejolak, Didi mengaku pernah menawarkan beberapa aplikasi. Namun, tawaran itu tak mendapat sambutan pengemudi taksi konvensional. 

"Aplikasi sudah ada, siapa saja mau pakai yang mana saja. Sebenarnya online kebutuhan, buktinya masyarakat menerima," tandasnya.


(SAN)