Densus Olah TKP Rencana Peledakan Bom di Bandung

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Selasa, 29 Aug 2017 12:32 WIB
terorisme
Densus Olah TKP Rencana Peledakan Bom di Bandung
Olah TKP rencana peledakan bom di Astana Anyar Kota Bandung, MTVN - Octavianus

Metrotvnews.com, Bandung: Detasemen Khusus 88 Antiteror mereka ulang rencana peledakan bom di Jalan Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat. Petugas menghadirkan tersangka AW ke lokasi kejadian.

Sekira pukul 11.00 WIB, Selasa 29 Agustus 2017, Densus mendatangi Rumah Makan Celengan yang menjadi salah satu lokasi target peledakan bom. Selain Densus, petugas dari Polrestabes Bandung, Kejaksaan Agung, dan pimpinan setempat turut menyaksikan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Densus menghadirkan tersangka perencanaan peledakan bom di lokasi. AW mengenakan baju tahanan berwarna oranye berbalut jaket biru. Topi hitam menutupi kepalanya.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Yusri Yunus mengatakan, Jalan Astana Anyar merupakan lokasi ke-10 dari 11 area yang didatangi AW. Olah TKP bertujuan mencari tahu peran AW dan rekan-rekannya.

"Untuk mengetahui peran para terduga teroris yang merencanakan peledakan bom di Rumah Makan Celengan," kata Yusri di lokasi kejadian.

Yusri menuturkan, AW mendatangi rumah makan tersebut pada 7 Juli 2017 sekitar pukul 20.00 WIB. AW membawa tas ransel berisi bom panci.

"Sekitar 20 menit dia masuk ke rumah makan itu. Ternyata bom yang ia bawa tak meledak," lanjut Yusri.

Setelah itu, AW melanjutkan perjalanan ke wilayah Braga. Dua jam kemudian ia tiba di sebuah kafe yang tengah ramai pengunjung. 

AW bersiap melakukan aksinya. Cafe Lam Beer merupakan lokasi ke-11 yang didatangi AW.

"Ternyata bom yang dibawanya tidak meledak juga. Masih ada campuran inti bom yang masih basah," ungkap Yusri.

Lantaran tak berhasil, AW kembali ke rumah kontrakannya di Desa Kubang Beureum, Buah Batu, Kota Bandung. AW dan rekan-rekannya pun kembali merakit bom. Tapi, bom malah meledak di kontrakan.

Pantauan Metrotvnews.com, reka ulang menampakkan sejumlah adegan terduga teroris AW dan kawan-kawan. Diduga, mereka merupakan bagian dari jaringan sel baru Jamaah Anshar Daulah (JAD).

Mereka belajar dan bergerak sendiri. Mereka mempelajari radikalisme dan terorisme dari web milik Bahrun Naim, warga Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS. Para terduga teroris berkomunikasi menggunakan grup media sosial Telegram.


(RRN)