Akhirnya Merdeka dari Kegelapan

Dede Susianti    •    Jumat, 18 Aug 2017 06:34 WIB
hut rihut kemerdekaan
Akhirnya Merdeka dari Kegelapan
Suasana dan kondisi di Kampung Gunung Sangar, Desa Mulyasari, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor bagian timur. Foto-foto: MI/Dede Susianti

Metrotvnews.com, Bogor: Tak ada bendera Merah Putih, tak ada umbul-umbul ataupun ornamen kemerdekaan lainnya di Kampung Gunung Sangar, Desa Mulyasari, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, pada HUT RI kemarin. Sebagai kampung tanpa listrik, selama ini warga di sana tidak terbiasa berpesta di hari kemerdekan.

Setelah 72 tahun Indonesia merdeka, ini pertama kalinya mereka berpesta di hari kemerdekaan. Meski tanpa hiasan, tahun ini warga bisa menikmati kilauan cahaya dalam pesta itu. Ini adalah tahun pertama pula listrik masuk ke kampung yang jaraknya kurang dari 100 kilometer dari Ibu Kota itu.

Sorak-sorai terdengar dalam perayaan yang digelar hingga malam hari di kampung yang dihuni 80 kepala keluarga dengan ratusan jiwa tersebut. Kini malam bukan jadi halangan bagi mereka untuk menikmati penerangan yang layak.

"Semenjak tinggal di sini hingga beberapa bulan lalu, tidak ada listrik. Dulu kalau mau terang, kami nyalain lampu dari minyak tanah. Sekarang sudah ada listrik, enak sekali. Bukan lumayan lagi. Alhamdulilah," tutur Kamal, salah seorang warga.

Udara dingin di daerah terpencil yang dikelilingi pegunungan Pancaniti malam itu menjadi hangat karena sukacita menikmati lomba-lomba sederhana. Ada lomba makan kerupuk.

Ibu-ibu tampak lebih suka pilih lomba balap karung. Semuanya dilakukan di bawah cahaya lampu. Listrik baru hadir di Kampung Gunung Sangar beberapa bulan lalu sejak relawan alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia membangun sebuah instalasi pembangkit listrik tenaga air untuk mereka.

"Pesta dengan perlombaan malam hari ini sebagai simbol warga dusun sudah merdeka dari kegelapan," kata Ketua Bidang Comunity Development Center Ikatan Alumni (Iluni) FTUI Irpan Bakri.

Dengan memanfaatkan aliran air di sungai dekat desa, instalasi mikrohidro yang dibangun para relawan itu mampu menghasilkan pasokan listrik yang cukup untuk seluruh warga.

"Kita buat pembangkit skala kecil. Kebetulan ada kali kecil di pinggir desa, dibuatlah pembangkit tenaga air yang dapat beroperasi pada putaran sangat rendah dan output-nya sesuai untuk satu kampung tersebut," kata Ketua Iluni FTUI Teten Derichard.

Selama ini pemerintah belum memasang infrastruktur untuk mengaliri kampung itu dengan listrik karena akses ke sana sulit diterjang, yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki 2 jam lebih.

Proses distribusi material instalasi seperti tiang beton, gulungan kabel, dan trafo listrik sulit dilakukan. Pertengahan Desember tahun lalu, Iluni meninjau lokasi untuk pemasangan panel surya dalam proyek pembangunan pembangkit listrik itu.

Ternyata, tidak perlu instal trafo dan gelar kabel transmisi yang panjang dan mahal, apalagi tiang beton. Cukup menggunakan bambu dan tekad untuk mewujudkan kepedulian mereka pada anak bangsa, intalasi itu dapat dibangun.

"Ini adalah bagian dari kepedulian kita untuk bangsa Indonesia dan mereka ini sudah terlalu lama memimpikan listrik," lanjutnya.


(UWA)