Jurnalis Diintimidasi saat Liput Proyek Rumah Deret di Tamansari

Roni Kurniawan    •    Kamis, 07 Dec 2017 12:29 WIB
jurnalis
Jurnalis Diintimidasi saat Liput Proyek Rumah Deret di Tamansari
Pengecoran untuk proyek rumah deret di Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat -- medcom.id/Roni Kurniawan

Bandung: Sejumlah jurnalis mendapat intimidasi saat meliput proses penggusuran rumah warga di Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu, 6 Desember 2017, siang. Intimidasi datang dari orang-orang yang mengaku menjaga keamanan kawasan tersebut.

Kejadian bermula ketika jurnalis mendapat undangan dari warga Tamansari terkait adanya pengeboran di salah satu rumah yang terdampak proyek rumah deret. Berdasarkan perjanjian antara warga dengan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil beberapa waktu lalu, segala bentuk pengerjaan proyek rumah deret untuk sementara dihentikan hingga adanya kesepakatan.

Konferensi pers dilaksanakan di Masjid Al Islam, Tamansari. Usai acara, warga bersama jurnalis meninjau lokasi pengeboran yang dilakukan kontraktor di salah satu rumah warga dekat Taman Film Bandung.

Pantauan Medcom.id di lokasi, terdapat beberapa pekerja kontraktor tengah mengebor untuk pembangunan tiang pancang rumah deret. Di tempat itu juga terdapat beberapa orang yang mengaku menjaga keamanan kawasan.

Tiba-tiba seorang yang mengaku petugas pengamanan meminta agar para jurnalis tidak berbuat macam-macam. Bahkan, salah seorang fotografer bernama Bambang dimaki.

"Iyeu dapur aing. Ulang ngaganggu dapur aing. Lamun ngaganggu dapur aing, diacak-acak ku aing. (Ini dapur saya. Jangan mengganggu dapur saya. Kalau mengganggu dapur saya, akan saya acak-acak)," kata pria tersebut sembari menubrukkan badannya ke Bambang.

Menurut seorang warga, Sri, orang-orang yang sempat melakukan intimidasi adalah preman. Mereka dulunya warga Tamansari yang terkena dampak penggusuran proyek rumah deret.

"Mereka disuruh sama kontraktor (jadi pengamanan)," kata Sri.

Sejak sebulan lalu, lanjut Sri, pihak kontraktor merangkul para preman tersebut untuk menjaga lahan yang akan segera dikerjakan. "Jadi, seolah-olah sekarang warga sama warga gontok-gontokan," katanya.

Seorang jurnalis, Tri Ispranoto, mengaku kecewa dengan perlakuan orang-orang yang mengaku menjaga pengamanan proyek tersebut. Terlebih, pengecoran tersebut masih terbuka untuk umum karena tidak ada garis atau pembatas pengerjaan proyek.

"Seharusnya jangan begitu, sama-sama kerja juga," kata Tri.


(NIN)