Kakek Asal Purbalingga Mudik dengan Menggunakan Sepeda

Ahmad Rofahan    •    Rabu, 21 Jun 2017 16:11 WIB
mudik lebaran 2017ramadan 2017
Kakek Asal Purbalingga Mudik dengan Menggunakan Sepeda
Hasan Miharjo mudim menggunakan sepeda ontel dari Depok, Jawa Barat menuju Purbalingga , Jawa Tengah-- MTVN/Rofahan--

Metrotvnews.com, Cirebon: Jika banyak masyarakat yang bingung menentukan moda trasnportasi apa yang akan digunakan ketika mudik, tidak bagi Hasan Miharjo, 75. Kakek asal Purbalingga, Jawa Tengah, ini tidak mudik menggunakan mobil ataupun kereta, melainkan menggunakan sepeda ontel.
 
Miharjo bersama putri bungsunya, Yunita, 17, melakukan perjalanan dari Depok, Jawa Barat, sejak Senin lalu. Masing-masing mengendarai sepeda ontel tua untuk bisa berkumpul bersama keluarganya di Purbalingga Jawa Tengah.
 
Miharjo menuturkan, mudik menggunakan sepeda bukan kali ini saja dilakukan. Ia mengaku, sudah tidak bisa menghitung berapa kali perjalanan pulang kampungnya itu menggunakan sepeda ontel. Kakek yang memiliki lima anak ini, menargetkan bisa tiba di Purbalingga dengan empat hari perjalanan.
 
“Targetnya besok sudah sampai Purbalingga,” kata Hasan saat ditemui di Check Point Polres Cirebon, Rabu 21 Juni 2017.
 
Selama perjalanan, Miharjo membawa sejumlah perbekalan, seperti baju dan peralatan sepeda. Ia juga membawa ban, untuk mengantisipasi terjadinya kebocoran nantinya. Kakek yang berprofesi sebagai buruh ini mengatakan, kegemarannya terhadap sepeda ontel sudah cukup lama. Sehingga, perjalanan mudik dengan menggunakan sepeda ini, merupakan sebuah hobi.
 
“Sudah lama saya suka sepeda. Sepeda ini juga merupakan warisan orang tua,” kata Hasan.
 
Sementara itu, Yunita putri bungsu Hasan menuturkan, ia sudah dua kali ini melakukan perjalanan jauh dengan bapaknya. Bulan lalu, ia bersama Hasan melakukan perjalanan dari Purbalingga menuju Jakarta. Dan saat ini, ia kembali melakukan dengan rute sebaliknya.

“ Bulan kemarin dari Purbalingga ke Jakarta, sekarang Jakarta Purbalinnga,” kata Yunita.
 
Selama perjalanan, Yunita mengaku sering hampir terserempet kendaraan-kendaraan besar. Terutama ketika melintasi jalur pantura. Ia dan ayahnya, membatasi perjalanan hingga pukul 10 malam. Selain karena fisik yang sudah lelah, penerangannya juga cukup minim.
 
“Kalau malam nginap di Masjid. Sepeda saya nggak ada lampunya, jadi kalau malam, lampunya memanfaatkan dari HP,” kata Yunita.
(ALB)