Tragedi di Tanjakan Emen Bukan karena Bus Overload

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Senin, 12 Feb 2018 00:24 WIB
kecelakaan lalu lintas
Tragedi di Tanjakan Emen Bukan karena  Bus <i>Overload</i>
Bus terguling di Tanjakan Emen. MI/ Reza S

Subang:  Kasubdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri Kombes Joko Rudi menuturkan, bus pariwisata yang mengalami kecelakaan maut hingga menewaskan puluhan warga Ciputat Tangsel pada Sabtu, 10 Februari 2018 dipastikan tidak kelebihan muatan (overload).

Menurut Joko, kapasitas bus 54 orang, sedangkan penumpang ada 53 orang. "Kami pastikan bus ini tidak overload, tapi lebih lanjutnya kita tunggu hasil olah TKP dan keterangan para saksi," ungkap Joko, Minggu, 11 Februari 2018.

Joko menuturkan, berdasarkan analisis secara kasat mata yang dilakukan pihaknya dari pengawas beberapa titik di lokasi kejadian, diduga bus mencoba menghentikan kendaraan namun sistem rem tidak berfungsi hingga akhirnya terguling.

"Saat olah TKP tadi, ada beberapa titik bekas pengereman. Artinya disini, bus telah mencoba memperlambat laju kendaraan sebelum akhirnya terguling," beber dia.

Joko mengatakan, lokasi kecelakaan tersebut merupakan titik terakhir dari Tanjakan Emen. Sehingga, diduga sistem pengereman bus mengalami gangguan melihat rem yang terus digunakan sepanjang tanjakan sepanjang 2,4 kilometer itu.

"Karena ini turunan terakhir mungkin panas dan memuai hingga tidak berfungsi. Karena ini kan cukup panjang turunannya, jadi rem terus dipake," tutur Joko.

Namun, lebih lanjut Joko menegaskan seluruh  analisan tersebut  masih bersifat sementara. Masih diperlukan, hasil olah TKP dan keterangan dari korban yang selamat serta saksi mata di lokasi kejadian.

Selanjutnya, dalam melakukan olah TKP petugas menggunakan drone guna memaksimalkan identifikasi penyebab kecelakaan maut yang membawa korban puluhan orang tersebut.

"Jadi olah TKP ini menggunakan sistem faro, yang nantinya dipetakan untuk menggambarkan terjadinya kejadian kecelakaan ini," pungkas dia.


(SCI)