Ingin Populerkan Kain Tenun Purwakarta, Bupati Wajibkan Siswa Belajar Menenun

Reza Sunarya    •    Jumat, 18 Nov 2016 10:58 WIB
purwakarta ads
Ingin Populerkan Kain Tenun Purwakarta, Bupati Wajibkan Siswa Belajar Menenun
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ingin mengembalikan kejayaan kain tenun Purwakarta (Foto:Reza Sunarya)

Metrotvnews.com, Purwakarta: Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ingin mengembalikan kejayaan kain tenun Purwakarta yang pernah menjadi tren pada era 1950 hingga 1980-an.

Tak sekadar angan semata, Dedi langsung memulai aksi nyata dengan mewajibkan mata pelajaran menenun bagi pelajar SMP dan SMU di Purwakarta.

Pria yang akrab disapa Kang Dedi itu mengatakan, langkah Pemerintah Kabupaten Purwakarta ini menjadi bagian dari Sistem Pendidikan Berkarakter yang telah diterapkan di wilayah tersebut sejak 2008.

Pendidikan aplikatif menjadi orientasi utama karena tidak hanya memperkuat aspek kognitif pelajar, sekaligus mengasah psikomotorik sehingga pelajar di Purwakarta diharapkan mampu menghasilkan produk yang bisa dibanggakan.

"Pendidikan itu harus mencerdaskan. Pendidikan itu harus aplikatif, tidak boleh hanya bersandar pada aspek akademik," kata Kang Dedi, saat ditemui di SMPN 8, Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (19/11/2016).

Ditegaskan Kang Dedi, Purwakarta dahulu pada 1950, merupakan salah satu penghasil tenun di Jawa Barat. Ia optimistis, masa kejayaan kain tenun Purwakarta dapat dibangkitkan kembali melalui pembekalan di kalangan pelajar SMP dan SMU.

"Nanti seluruh siswa di SMP dan SMU harus ada pelajaran menenun. Alat-alatnya akan kami persiapkan sebagai permulaan di SMPN 8," kata Kang Dedi.

Tak hanya itu, tiga orang warga Baduy secara khusus didatangkan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Mereka didaulat untuk mengajari seni menenun kepada siswa di kabupaten yang menjadikan nilai falsafah kesundaan sebagai soko guru pembangunan itu.

Keberadaan tiga orang warga Baduy asal Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Provinsi Banten tersebut disambut antusias oleh pelajar SMPN 8 Purwakarta. Sudah sejak sepekan lalu, mereka mengajarkan seni tenun kepada pelajar di sana.

“Anak-anak di sini sangat bersemangat. Mereka cepat menerima pelajaran. Dalam menenun, dasarnya adalah ketekunan. Sudah seminggu saya mengajar,” ujar Sarip (50), salah seorang guru tenun Suku Baduy, saat ditemui di SMPN 8 Purwakarta.

Berbagai ukuran kain tenun diperkenalkan oleh Sarip kepada seluruh siswa. Mulai dari ukuran 1x2 meter hingga ukuran 2x0,25 meter. Fokus utama yang diajarkan oleh Sarip adalah mengasah kesabaran siswa.


(ROS)