Kabupaten Tasikmalaya Mandiri Penuhi Kebutuhan Beras Warga

Antara    •    Rabu, 01 Nov 2017 19:33 WIB
swasembada beras
Kabupaten Tasikmalaya Mandiri Penuhi Kebutuhan Beras Warga
Petani menggarap lahan sawahnya di Kampung Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Ant - Adeng Bustomi

Metrotvnews.com, Bandung: Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menorehkan keberhasilan mengekspor beras organik. Salah satu kunci keberhasilan adalah kemasan yang menarik konsumen.

Anggota Komisi II DPRD Jabar Yunandar Eka Perwira mengapresiasi keberhasilan tersebut. Yunandar mengatakan keberhasilan tak lepas dari inovasi di bidang pertanian yang dilakukan pemerintah setempat.

"Beras organik yang dikemas secara menarik mampu menarik konsumen dunia dengan harga yang tinggi. Beras organik harganya bisa empat sampai lima kali lipat. Walau cuma sekedar dibungkus, tapi  itu meningkatkan harga jual," kata Yunandar di Bandung, Rabu 1 November 2017..

Selain itu, ujar Yunandar, Pemkab Tasikmalaya sukses memenuhi kebutuhan beras warganya. Itu menunjukkan Pemkab mampu melakukan dua hal dalam pertanian. Yaitu memenuhi kebutuhan beras warga dan mengekspor komoditas. 

"Itu artinya wilayah tersebut sudah mandiri. Ini kan sebuah prestasi dan patut diapresiasi," ujarnya.

Itu mencerminkan Pemkab Tasikmalaya mampu menciptakan kemandirian pangan di tengah laju pertumbuhan penduduk. Keberhasilan itu bisa ditiru pemerintah lain.

Sebab, masih banyak pemerintah daerah yang pasif menjaga ketahanan pangan. Pemerintah hanya berkutat memenuhi kebutuhan pangan untuk masyarakat, tapi tak memikirkan produksi pertanian.

"Hanya membangun satu kondisi di mana pangan itu tersedia, tanpa mempersoalkan dari mana asalnya. Itu yang membuat kita tidak mandiri pangan," kata Yunandar.

Ia mengatakan seharusnya pemerintah mendorong daerah-daerah agar mampu memproduksi pangan secara mandiri.

"Masalahnya bukan ketersediaan lagi, tapi bagaimana bisa me-manage pengelolaan pangan ini, agar tidak impor terus," katanya.

Oleh karena itu, perlu keseriusan dalam menjaga ketahanan pangan dengan menciptakan berbagai terobosan dan untuk menjaga produktivitas pertanian perlu keberpihakan kepada para petani, salah satunya dengan memberi jaminan kesejahteraan bagi petani dan keluarganya.

"Dan jika perlu petani angkat sebagai PNS. Beri gaji tetap, tunjangan. Karena mereka sesungguhnya orang penting," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan selama ini petani kita tidak sejahtera sehingga minat warga untuk bertani terus berkurang.

Selain itu, menurutnya perlu kreativitas untuk menyiasati terus berkurangnya lahan pertanian dan pihaknya menilai perluasan lahan pertanian tidak hanya dilakukan secara horizontal, tetapi bisa juga vertikal seperti yang dilakukan di China dan Thailand.

"Dan bahkan lahan bekas pabrik bisa jadi ladang pertanian, semacam hidroponik. Perlu adanya industrialisasi pertanian agar hasil panen petani bisa terserap dengan baik.

Ia menambahkan selama ini, petani sering merugi karena menjual hasil pertaniannya dengan harga yang sangat murah.

"Petani tidak tahu mau menjual ke mana, akhirnya terpaksa menjual murah," ujarnya seraya menyebut petani pun harus dipermudah dalam memeroleh pupuk.

Oleh karena itu, inovasi hasil terus dilakukan agar produk pertanian memiliki nilai tambah dan kekhasan tersendiri sehingga pihaknya meyakini hasil pertanian akan memiliki nilai yang tinggi sehingga mampu mengangkat kesejahteraan petani. 


(RRN)