Bandung Genjot PAD dari Pajak

Roni Kurniawan    •    Selasa, 10 Jul 2018 14:54 WIB
pajak daerah
Bandung Genjot PAD dari Pajak
Ilustrasi. Sebuah hotel di antara pemukiman padat di kawasan Bandung Utara. (ANT/Raisan Al Farisi)

Bandung: Pemerintah Kota Bandung terus menggenjot target Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada semester ke dua 2018, dengan mengejar lima dari sembilan mata pajak yang masih minim kontribusi selama semester satu di 2018.

Lima mata pajak tersebut adalah pajak hotel, pajak hiburan, pajak reklame, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Menurut Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah (BPPD) Ema Sumarna, target pencapaian pajak pada 2018 ini sebesar Rp2,64 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pada 2017 sebesar Rp2,2 triliun.

“Kalau kita berbicara kinerja bulan perbulan sampai semester satu itu aman, tapi di semester kedua ini kita genjot. Karena pada semester pertama (sampai dengan Juni) kita sudah berhasil mendapatkan sekitar Rp900 miliar,” ujar Ema dalam program 'Bandung Menjawab' di Taman Sejarah Bandung, Jalan Aceh, Selasa, 10 Juli 2018.

Ema mengaku, pendapatan Juni 2018 mengalami sedikit penurunan karena libur Lebaran yang cukup panjang. Sehingga menghilangkan potensi pajak Rp30 miliar hingga Rp40 miliar.

“Dari sisi pendapatan ternyata ada durasi waktu efektif delapan hari itu orang tidak bisa bertransaksi melakukan aktivitas pembayaran pajak," sambungnya.

Sementara itu empat mata pajak lainnya diakui Ema mampu mencapai lebih dari 50 persen. Ia menjelaskan, untuk pajak restoran, pihaknya mampu menyerap 53-54 persen, lalu pajak parkir diatas 52 persen, kemudian pajak penerangan jalan 52 persen dan pajak air tanah 53 persen.

Ia optimistis mampu mencapai target penyerapan pajak pada semester dua,  yang menyisakan Rp1,7 triliun. Salah satu mata pajak yang mampu menopang penyerapan pajak adalah pajak bumi dan bangunan (PBB).

"Kita akan ditopang oleh siklus kebiasaan warga masyarakat pembayaran PBB. PBB sekarang uangnya baru terkumpul Rp96 miliar, kita punya target itu Rp700 miliar, artinya masih ada peluang Rp600 miliar," pungkasnya.


(LDS)