Dedi Mulyadi: Kultur Tak Terpelihara, Penyebab Radikalisme dan Intoleransi

Reza Sunarya    •    Kamis, 14 Sep 2017 15:51 WIB
berita purwakarta
Dedi Mulyadi: Kultur Tak Terpelihara, Penyebab Radikalisme dan Intoleransi
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menghadiri Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Kewaspadaan Nasional di Purwakarta, Jawa Barat (Foto:Reza Sunarya)

Metrotvnews.com, Purwakarta: Beberapa waktu terakhir, paham radikalisme dan intoleransi menjamur di media sosial. Kondisi tersebut dinilai Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi terjadi karena sikap kurang waspada yang ditunjukkan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia kurang mengantisipasi pengaruh buruk yang mungkin muncul akibat penggunaan media sosial, sehingga paham radikal tumbuh di tengah kehidupan bermasyarakat.

"Ini karena kita kurang waspada, sehingga paham radikalisme dan intoleransi yang bermunculan itu sulit kita counter. Kita harus bersatu untuk meng-counter itu semua agar bangsa ini tidak terjebak ke dalam konflik dan sengketa paham," ujar Dedi Mulyadi, saat berbicara di Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Kewaspadaan Nasional yang digelar di Bale Maya Datar, Komplek Sekretariat Daerah Purwakarta, Jawa Barat, pada Kamis, 14 September 2017.

Selain sikap kurang waspada, kurangnya kesadaran terhadap pentingnya kebudayaan bangsa sendiri, disebutkan oleh Bupati Purwakarta dua periode tersebut, sebagai penyebab utama. Masyarakat Indonesia yang semula terkenal guyub, kini menjadi cenderung individualis.

"Kita jujur saja lah. Kemunculan paham tersebut bukan hanya datang dari luar, tetapi bibitnya karena sikap individualitis yang kita miliki. Akibatnya, saat menerima informasi, kita tidak ber-tabayyun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya) terlebih dahulu. Langsung saja kita konsumsi informasi yang beredar itu,” ujarnya.

Dedi mencontohkan, kultur masyarakat pedesaan yang mulai berubah. Jika semula, tokoh masyarakat di desa menjadi rujukan berbagai informasi yang beredar, kini mulai ditinggalkan karena masyarakat desa beralih menggunakan media sosial.


Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menghadiri Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Kewaspadaan Nasional di Purwakarta, Jawa Barat (Foto:Reza Sunarya)

"Paham-paham yang tidak sesuai dengan kultur, dulu masih bisa disaring oleh para tokoh di desa. Sosok mereka mampu menggerakkan masyarakat untuk bergotong-royong dan berswadaya. Kini, itu sulit kita temukan," ucap Dedi.

Dedi pun menyerukan penguatan kultur budaya ketimuran untuk menangkal perkembangan paham radikalisme dan intoleransi. Kultur ini menurutnya, harus bertransformasi menjadi perilaku dalam kehidupan warga masyarakat sehari-hari.

"Kalau tidak ingin paham ini tumbuh subur, maka jati diri kultur kita harus diperkuat. Jangan mengubah kebudayaan Indonesia.  Kita Indonesia dan seterusnya akan tetap menjadi Indonesia,” ucap Dedi tegas.
 
Dalam forum tersebut turut digelar Deklarasi Anti Intoleransi dan Radikalisme oleh sejumlah masyarakat Purwakarta yang terdiri dari perwakilan organisasi masyarakat dan komunitas.


(ROS)