Hidup Endang Memprihatinkan

Farhan Dwitama    •    Minggu, 16 Sep 2018 18:28 WIB
kemiskinan
Hidup Endang Memprihatinkan
Endang, 51, terkulai di bedengnya di Pondok Jagung, kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Minggu 16 September 2018. Medcom.id/Farhan Dwitawama

Tangerang: Endang, 51, warga Kampung Pryangan, RT03/01 Pondok Jagung, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten tak pernah memilih hidup miskin. Namun apa daya, segala keterbatasnnya membuat hidup Endang semakin memprihatinkan.

Pria berusia setengah abad lebih ini rela membanting tulang bekerja serabutan. Dia hanya ingin mencari nafkah halal demi dua anaknya, Eriyanti Safitri, 14 dan Desi Natalia.

Malang, penyakit kembali menggerogoti kedua kaki Endang. Pada 2016, ia pernah terkena penyakit yang sama. Dia hanya bisa terkulai lemas di atas kasur.

"Kak Endang sudah dua minggu tak bekerja, penyakit kakinya makin parah," kata Ijah, adik kandung Endang, 45, saat ditemui di gubuk Endang, Minggu, 16 September 2018.

Anak kedua dari delapan bersaudara itu tinggal menumpang di lahan kosong milik warga setempat sejak 2015.
Kemiskinan dan keterbatasan membuat Endang tinggal di bedeng yang dibuat seadanya.

Asbes dilapis terpal menjadi atap, reruntuhan pagar dilapisi papan menjadi dinding. Di sana Endang tinggal. Bedeng Endang  bangun sendiri. Tempat berteduh Endang amat miris bila hujan turun.

Ijah mengisahkan, Endang tetap bersemangat mencari nafkah demi kedua putrinya meski diserang penyakit. Putri Endang bersekolah di di SMP Pustek Serpong dan SDN 04 Pondok Jagung.

Endang tetap mencari rezeki di jalan dengan bekerja serabutan, misalnya menjaga parkiran. Nasib Endang semakin tak karuan saat ditinggal istri.

"Istrinya kabur, enggak mau urusin. Kalau anak-anaknya tinggal sama nenek dari istrinya. Endang sendiri saja tinggal di bedeng," ucap Ijah lirih.

Ijah berharap ada kepedulian pemerintah dan warga setempat untuk Endang. "Belum lama ada dari Dinsos mau membantu buatkan BPJS, untuk berobat kakinya," kata Ijah.


(SUR)