Ratusan Pabrik Cemari Sungai Citarum

Roni Kurniawan    •    Sabtu, 16 Dec 2017 11:58 WIB
lingkungan
Ratusan Pabrik Cemari Sungai Citarum
Suasana Rapat Koordinasi Penataan Sungai Citarum di Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh, Kota Bandung, Sabtu 16 Desember 2017.

Bandung: Sebanyak 170 pabrik atau industri dilintasi aliran sungai Citarum, Jawa Barat. Bahkan ratusan pabrik tersebut pun terindikasi melakukan pencemaran terhadap aliran sungai Citarum terutama di kawasan Kabupaten Bandung.

Hal itu diungkapkan Kolonel infantri Yudi Zanibar dari Kodam Siliwangi saat memaparkan pencemaran limbah industri terhadap sungai Citarum.

"Jumlah pabrik atau industri yang berada di citarum ada 170. Kami mendapatkan data alamat perusahaan, sungai penerima apa, DASnya kemana. Itu kami ada," ungkap Yudi saat memaparkan pencemaran limbah industri dalam acara Rapat Koordinasi Penataan Sungai Citarum di Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh, Kota Bandung, Sabtu 16 Desember 2017.

Yudi menyampaikan, ratusan pabrik tersebut kedapatan membuang limbah ke beberapa anak sungai Citarum. Bahkan warna air sungai pun berubah menjadi hitam pekat dan hijau.

"Kami mencoba mengidentifikasi sungai-sungai yang ada pabriknya. Kami juga menemukan adanya perubahan warna pada air sungai, seperti di kawasan Mohammad Toha, air berubah warna hitam," beber Yudi.

Kawasan yang dilakukan identifikasi oleh aparat TNI tersebut mayoritas di daerah Kabupaten Bandung seperti di arjasari, Baleendah, Banjaran, Bojongsoang, Cicalengka, Majalaya, Marga Asih dan Nagrek.

"Kami juga mengecek ke Pameungpeuk, Solokan Jeruk dan Rancaekek. Bahkan di salah satu daerah, kami menemukan aliran sungai tertutup oleh salah satu pabrik. Itu jelas-jelas ditutup sungainya," urai Yudi.

Namun Yudi mengaku, pihaknya tidak bisa menindak terkait temuan pelanggaran-pelanggaran tersebut. Pasalnya setiap pemerintah daerah (Pemda) mempunyai regulasi terkait izin atau pun analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang dikeluarkan oleh Pemda terhadap setiap pabrik atau industri.

"Kami terbentur dengan regulasi. Karena itu ada di setiap pemda. Jadi kami dorong pemda untuk bisa menindak perusahaan industri yang telah mencemari sungai Citarum," pungkasnya.


(ALB)