Harga Beras di Daerah masih Tinggi

Cikwan Suwandi    •    Selasa, 16 Jan 2018 15:36 WIB
harga beras
Harga Beras di Daerah masih Tinggi
Seorang pedagang beras di Pasar Induk Pasirhayam Cianjur, Jawa Barat, sedang melayani pembeli -- MI/Benny Bastiandy

Bandung: Tingginya harga beras masih terjadi di Cirebon, Temanggung, Palangkaraya, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bojonegoro, Sukabumi, Banyumas, Banjarmasin, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Gejolak harga beras membuat Kepolisian Daerah Jawa Barat bergerak cepat mengatasi.

Kapolda Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto mengatakan pihaknya sudah mengirimkan tim ke berbagai daerah untuk mengecek penyebab terjadinya kenaikan harga beras. Salah satu timnya bergerak ke Kabupaten Garut setelah ada laporan harga beras naik hingga 25 persen.

"Kami cek ke sana apa penyebabnya. Apakah ada penimbunan atau tidak. Saya belum mendapat laporan. Bila ada penimbunan, akan kami tindak," kata Agung di Bandung, Jawa Barat, Senin, 15 Januari 2018.

Makanan Lokal
Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, memandang belum perlu melakukan impor beras. Apalagi, stok beras di lumbung padi Jawa Barat itu surplus.

"Informasi dari dinas pertanian, surplus. Kenapa impor kalau mengalami surplus," ujar Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman.

Pada bagian lain, di tengah fluktuasi harga beras, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) menggalakkan konsumsi pangan lokal selain beras, yakni ubi. Pada berbagai acara dan seremonial pemkab, makanan yang dihidangkan berbasis pangan lokal, seperti lapek sagu, onde-onde, dan gorengan berbahan ubi.

"Ternyata masyarakat lebih suka dan antusias mengomsumsi makanan pangan lokal," lanjutnya.

Setelah keran impor beras dibuka pemerintah, para pedagang beras di pasar-pasar tradisional mulai mengurangi pembelian dan mencoba menghabiskan stok. Seperti dilakukan para pedagang beras di Pasar Beras Johar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

"Secara psikologis (impor) cukup memengaruhi pedagang di Pasar Beras Johar ini. Mereka mulai mengurangi pembelian dan mencoba menghabiskan stok karena khawatir harga akan turun," ungkap Ketua Paguyuban Pedagang Beras Pasar Beras Johar Karawang Sri Nargito.

Sri menambahkan, saat ini harga beras masih belum normal. Demikian juga pasokan beras masih sekitar 600-700 ton.

"Sehari keluar-masuk beras, kita membutuhkan 1.000 ton," tambahnya.

Sementara itu, upaya Bulog dalam menurunkan harga beras dengan mengirimkan beras cadangan pemerintah ke Pasar Beras Johar kurang laku. "Kami sudah mengemas dengan harga Rp8.000 per kilogram, tapi kurang laku. Seharusnya Bulog bisa menyelaraskan kebutuhan beras medium dan premium," kata Sri.

Harga beras medium yang awalnya Rp9.450 per kilogram, kini menjadi Rp11.500-Rp12 ribu per kilogram. Sedangkan beras premium sudah mencapai Rp12.800 per kilogram.


(NIN)