Bandara Soetta Simulasi Kecelakaan Pesawat

Hendrik Simorangkir    •    Kamis, 22 Nov 2018 15:56 WIB
penerbangan
Bandara Soetta Simulasi Kecelakaan Pesawat
Simulasi penangan kecelakaan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta. Medcom.id/Hendrik Simorangkir

Tangerang: Pesawat Boss Air OK-18 rute Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, menuju Changi Airport, Singapura, gagal lepas landas di Terminal 2 bandara. Pesawat bernomor penerbangan BA-3110 ini mengalami ledakan setelah roda depan pesawat patah dan menabrak landasan.

Pesawat yang sedianya akan tiba di bandara tujuan sekitar pukul 11.50 WIB itu membawa 170 pria, 70 wanita, 4 anak-anak, 16 kru (empat kru kokpit dan dua belas awak kabin). Pembatalan itu terjadi karena pilot merasakan adanya guncangan pada landasan pacu (runway).

Pesawat lepas kendali dan menyebabkan pesawat BA-3110 gagal lepas landas (take-off) dan keluar dari runway sejauh 50 meter. Roda depan pesawat patah dan satu mesin terbakar.

Insiden tersebut merupakan bagian dari skenario latihan penanggulangan keadaan darurat (PKD) PT Angkasa Pura II (Persero) Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kecelakaan pesawat merupakan dampat aktivitas vulkanik dari gunung anak Krakatau di Banten.

"Sebanyak 800 personel gabungan sampai pasukan khusus keselamatan penerbangan, diterjunkan dalam simulasi ini," ujar Executive General Manager Bandara Internasional Soekarno Hatta, M. Suryawan Wakan, saat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis, 22 November 2018.

Pihak yang terlibat meliputi PT Angkasa Pura II (Persero),  Otoritas Bandara, AirNav, KNKT, TNI, Polres Bandara, Basarnas, CIQ, DVI Polda Metro Jaya, Dinas Perhubungan, pihak maskapai, Ground Handling, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Pemadam Kebakaran Kota Tangerang, Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang  serta beberapa rumah sakit dan puskesmas sekitar bandara.

Simulasi ini rutin digelar Untuk menjamin keselamatan penerbangan, keamanan dan kenyamanan moda transportasi udara. Terutama untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dari kecelakaan penerbangan.

Latihan terpadu yang melibatkan seluruh instansi terkait ini menjadi uji sistem dan prosedur standar masing-masing institusi yang terlibat.

Selain penanganan pada saat kejadian, PKD tahun ini juga terdapat skenario penanganan usai kejadian. Mulai dari penanganan terhadap keluarga korban hingga latihan penanganan terhadap media saat kondisi darurat.  

"Latihan ini juga merupakan upaya untuk mengukur kesiapan dokumen Airport Emergency Plan (AEP) dan Airport Security Program (ASP) serta memperlancar fungsi instruksi, komunikasi, dan koordinasi," jelas Wakan.


(SUR)