Menkumham Ingin Pengawasan Orang Asing Diperketat

Hendrik Simorangkir    •    Selasa, 14 Aug 2018 16:05 WIB
wna
Menkumham Ingin Pengawasan Orang Asing Diperketat
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, pimpin langsung rapat koordinasi Nasional Tim Pengawasan Orang Asing atau Tim Pora di Hotel Novotel, Tangerang, Banten, Selasa, 14 Agustus 2018. Medcom.id/ Hendrik Simorangkir.

Tangerang: Tim Pengawasan Orang Asing atau Tim Pora memperketat pengawasan keberadaan warga negara asing (WNA) di Indonesia.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan, dirinya ingin memaksimalkan peran sejumlah instansi yang ada di bawah naungan Menkumham untuk mengawasi WNA.

"Kami terus bekerja melalui penyusunan program debirokratisasi pelayanan keimigrasian dalam hal kemudahan memberikan visa, izin tinggal serta pengawasan di seluruh wilayah," kata Yasonna di Hotel Novotel Kota Tangerang, Banten, Selasa, 14 Agustus 2018. 

Yasonna menjelaskan, bentuk pengawasan WNA atau TKA di Indonesia adalah tanggung jawab semua aparat. Selain pihak Imigrasi, juga dibantu oleh kepolisian, kejaksaan, TNI, serta pemerintahan daerah.

Menurut Yasonna, aturan tersebut sudah tertuang dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, Menteri Hukum dan HAM.

Yasonna kembali mengatakan, hingga Juli 2018, tim yang sudah dibentuk mencapai 570 tim di seluruh Indonesia.

Menurutnya, hingga Juli sudah tercatat ada 1.382 WNA yang melanggar hukum keimigrasian Indonesia. Dari jumlah tersebut 948 WNA dideportasi ke Negara asalnya. Adapun sanksi lainnya berupa penangkalan, pembatalan izin tinggal dan pengenaan biaya beban.

"Terutama pengawasan Tenaga Kerja Asing juga, kita ketat dalam pengawasannya. Meski investasi tetap berjalan dengan berbagai syarat dari investor tersebut, tetap pengawasan ketika sudah di Indonesia harus dilakukan," tegas Yasonna.

Sementara itu Dirjen Imigrasi Ronny F Sompie mengatakan, hingga pertengahan Agustus, sudah ada 25 WNA yang hendak masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang langsung dicekal dan dideportasi ke negara asalnya. Kesalahan yang dilakukan biasanya karena administrasi atau passport yang dipakai bukan miliknya.

"Dia menggunakan passport orang lain, tapi dengan foto yang mirip dirinya. Kita kan sudah punya alat untuk mendeteksi itu, tentu saja ketahuan, langsung dideportasi tidak boleh masuk," tegas Ronny.


(DEN)