Warga Dilibatkan Bersih-bersih Sungai Citarum

Cikwan Suwandi    •    Minggu, 28 Jan 2018 15:15 WIB
pencemaran sungai
Warga Dilibatkan Bersih-bersih Sungai Citarum
Nelayan melintasi sungai Citarum di kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat -- ANT/Raisan Al Farisi

Bandung: Sungai Citarum sering menjadi bahan olok-olokan karena termasuk salah satu sungai terkotor di dunia. Pemerintah pun mulai bergerak menyelesaikan persoalan kebersihan di sungai terpanjang di Jawa Barat itu dengan melibatkan masyarakat.

Sungai Citarum yang memiliki panjang 269 kilometer itu melintasi 12 kabupaten/kota itu berawal dari hulu di Situ Cisanti, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Alirannya berakhir di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi dan Muara Bendera, Kabupaten Karawang.

Perbaikan kawasan Situ Cisanti di Kampung Pejaten, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, sudah dimulai dengan membersihkan rumput liar, pengangkatan sampah, dan eceng gondok dari permukaan danau. Situ Cisanti menampung air dari tujuh mata air sejak berjuta tahun lalu.

"Untuk mencegah sedimentasi, tanahnya sudah diperkuat. Selain itu, kami juga merelokasi warga yang tinggal di kawasan konservasi," kata Kapendam III/Siliwangi Kol Desi Ariyanto, Sabtu, 27 Januari 2018.

(Baca: Presiden Jokowi Soroti Sungai Citarum yang Terkontaminasi)

Menurut Desi, pihaknya akan menanam 125 juta pohon di kawasan Gunung Wayang. Pohon harus memiliki tinggi 1,2 meter dan diameter batang dua sentimeter.

"Kegiatan lain ialah mendata industri di sepanjang Citarum yang membuang limbah ke sungai," ucap Desi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, tampak pipa-pipa pembuang limbah sejumlah pabrik berjajar tanpa nama di Kampung Sukamulya, Desa Warungbambu, Karawang. Warga sekitar pun mengaku sudah tidak asing dengan buih putih berbau busuk di permukaan sungai.

"Pabrik membuang limbah petang hari. Kalau hujan, kadang limbah jadi berwarna-warni," ujar Iwan, warga Sukamulya.

(Baca: Ratusan Pabrik Cemari Sungai Citarum)

Di Purwakarta pun sama. Abud, warga Desa Cilangkap, Kecamatan Babakan Cikao, mengeluh.

"Sejak banyak industri tekstil, air Citarum tidak dapat diandalkan lagi, keruh dan bau. Warga pun kerap terkena penyakit kulit," tutur Abud.

Head of Corporate Affairs PT South Pacific Viscouse Widi Nugroho menampik jika perusahaannya dituding membuang limbah ke Citarum. "Kami punya instalasi pengolah limbah. Selama ini tidak ada keluhan dari PT Jasa Tirta II," tegasnya.

 


(NIN)