Ridogalih, Desa yang tak Teraliri Air Bersih di Ujung Bekasi

Antonio    •    Rabu, 15 Aug 2018 11:05 WIB
kekeringan
Ridogalih, Desa yang tak Teraliri Air Bersih di Ujung Bekasi
Seorang warga sedang mengambil air di Kali Cihoe, Desa Ridogalih, Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Medcom.id/Antonio

Bekasi: Petang hampir tiba. Seorang pelajar yang menggunakan celana seragam berwarna abu-abu terlihat sedang duduk seorang diri di tepi Kali Cihoe, Desa Ridogalih, Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa 14 Agustus 2018.

Dia nampak diam. Matanya melihat ke jalan. Padahal, lalu lalang kendaraan tidak ramai di jembatan yang berada di wilayah Selatan Kabupaten Bekasi ini.

Ternyata, dirinya sedang menunggu giliran untuk turun ke Kali Cihoe. Untuk apa? Mandi. Karena ada sejumlah perempuan yang sedang mandi di kali tersebut.

Pemuda yang terlihat pendiam itu bernama Gunawan. Usianya baru 16 tahun. Dia adalah warga sekitar yang merupakan pelajar tingkat sekolah menengah atas di wilayah setempat.

Mengawali pembicaraan, dia langsung mengungkapkan alasannya tidak mandi di rumah melainkan di kali. "Sudah sekitar enam bulan (kekeringan), sekarang ke Kali Cihoe untuk mandi," kata dia di Bekasi. 

Selama enam bulan lamanya, air di sumur bor yang ada di rumahnya kering. Sehingga, mau tidak mau harus ke Kali Cihoe untuk mandi setiap hari.

Sebelum berangkat sekolah pun dia harus ke Kali Cihoe untuk mandi. Teman-temannya yang tinggal di wilayah sekitar juga demikian.

Kondisi itu tidak membuatnya patah arang untuk bersekolah. Karena, ia menilai pendidikan sebagai hal yang penting dan bermanfaat untuk masa depan.

"Jam enam pagi ke sini, sudah ramai, anak sekolah banyak, memang ke sini semua kalau pagi (untuk mandi)," ujarnya.

Berbeda lagi untuk air bersih. Remaja yang tinggal bersama dengan kedua orangtuanya ini mengaku selalu membeli air galon isi ulang.

Satu hari satu galon. Harganya Rp. 5.000 per galon cukup untuk memenuhi kebutuhan air Gunawan, ayah, dan ibunya. Itu sudah wajib. Karena tidak ada layanan air yang masuk ke desa tersebut. "Ini setiap tahun memang seperti ini," katanya.

Dirinya berharap supaya pemerintah dapat menyelesaikan masalah kekeringan yang menimpa warga di desanya. "Kalau bisa, air bersih juga dialirkan ke sini (Desa Ridogalih)," tutupnya.

Menanggapi belum masuknya layanan air bersih ke wilayah tersebut, Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin, mengaku akan segera mengatasi persoalan tersebut. 

"Tahun depan kita ajukan penyertaan modal untuk PDAM untuk membuat reservoir ke Cibarusah. Sebenarnya kita ingin per lima tahun ya sekitar Rp250 miliar. Tapi paling enggak Rp30 miliar dulu untuk Cibarusah, nanti saluran ke rumahnya via  (melalui anggaran) MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah)," katanya.

Hal itu diamini Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Mustakim. Ia menyatakan, pihaknya akan menyetujui pengajuan penyertaan modal selama dilakukan untuk kepentingan masyarakat.

"Kita setuju saja kalau untuk kesejahteraan rakyat itu yang kita lakukan. Memang sekarang Ridogalih itu mau kita kasih duluan, kalau anggaran belanja tambahan (ABT) bisa dilakukan maunya di ABT sekitar Rp30 miliar," ujarnya.


(ALB)