15 Ribu Warga Bogor Terdampak Kekeringan

Rizky Dewantara    •    Jumat, 24 Aug 2018 18:48 WIB
kekeringan
15 Ribu Warga Bogor Terdampak Kekeringan
Ilustrasi kekeringan, Medcom.id - M Rizal

Bogor: Kemarau melanda Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sedikitnya 15 ribu jiwa dari sekitar 4.500 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Bogor.

Dalam beberapa pekan terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor telah menyuplai air bersih lebih dari 20 kali ke beberapa kecamatan, yakni Tenjo, Sukajaya, Ciampea, Klapanunggal, Rancabungur, Babakanmadang dan Citeureup.

Bupati Bogor Nurhayanti menyatakan siap bertanggung jawab menangani kekeringan. Namun Pemkab belum memiliki solusi untuk mengairi sawah yang dalam kondisi kering.

"Kami telah upayakan pengiriman air bersih. Camat-camat juga saya minta untuk melaporkan kekeringan. Kalau untuk infrastruktur, tidak bisa instan. Harus diprogramkan dulu," kata Nurhayanti, saat ditemui di pendopo Bupati, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat, 24 Agustus 2018.

Sambung dia, untuk Infrastruktur  pendukung pertanian saat terjadi kemarau salah satunya waduk Cibeet di kawasan timur Bumi Tegar Beriman. Namun, Yanti tidak menjamin waduk itu bisa dibangun menggunakan APBD Kabupaten Bogor.

"Masih lama waduk Cibeet untuk digunakan untuk masyarakat. Enggak bisa pakai APBD. Harus pemerintah pusat karena kebutuhan anggarannya tinggi," ungkapnya.

Diketahui, Kecamatan Jonggol, 108 dari 3.849 hektare sawah telah mengalami gagal panen (puso) akibat kemarau. Kekeringan tak bisa dihindari karena adanya kerusakan pada Bendungan Cipamingkis Lengsir.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pertanian Jonggol Akhmad menyebutkan, enam desa yang terdampak signifikan yakni Desa Jonggol, Sirnagalih, Sukagalih, Weninggalih, Sukasirna dan Desa Sukanagara.

Ia mengungkapkan, di desa-desa itu bergantung pada Bendungan Cipamingkis Lengsir untuk mengairi lahan pertanian. Namun, debit air di bendungan itu menipis dan harus berbagi dengan keperluan masyarakat yang lain.

"Air ada, tapi baru bisa dialiri pada malam hari untuk lahan pertanian. Kalau siang dipakai buat cuci baju ibu-ibu," kata Akhmad saat dihubungi medcom.id, Jumat, 24 Agustus 2018.

Meski demikian, ia mengaku, 108 dari 3.849 hektare lahan pertanian di sana mengalami gagal panen (puso) akibat kemarau. "Saya khawatir keadaan semakin memburuk pada pertengahan Agustus 2018 saat puncak kemarau," tutup dia. 



(RRN)