Indonesia Butuh Banyak Pekerja Sosial

Gervin Nathaniel Purba    •    Rabu, 17 Oct 2018 22:01 WIB
Berita Kemensos
Indonesia Butuh Banyak Pekerja Sosial
Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita bersama wisudawan STKS Bandung (Foto:Medcom.id/Gervin Nathaniel Purba)

Bandung: Jumlah pekerja sosial (peksos) saat ini dinilai masih kurang memadai. Kementerian Sosial (Kemensos) mencatat ada jarak yang sangat besar antara jumlah peksos dengan kebutuhan di lapangan.

Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan jumlah peksos yang melaksanakan praktik dalam penanganan kemiskinan sebanyak 15.522 orang. Dibandingkan jumlah penduduk miskin, estimasi kebutuhan peksos dalam penanganan fakir miskin sebanyak 139 ribu orang.

"Sebetulnya ada jarak antara kebutuhan di lapangan dengan jumlah peksos,” ujar Agus saat menghadiri wisuda Program Studi Peksos Program Spesialis-1 ke-11 dan Program Studi Peksos Program Sarjana Terapan ke-51 di  Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Jawa Barat, Rabu, 17 Oktober 2018.

Peksos dibutuhkan untuk penanganan penyalahgunaan narkoba, penanganan bencana, perlindungan anak, lansia, rumah sakit, rumah sakit jiwa, perdagangan manusia, program pemberdayaan, dan lainnya. Penanganan penyalahgunaan narkoba disebut membutuhkan banyak peksos.

"Jumlah penyalahguna narkoba 4,2 juta orang. Jika rasio peksos dengan penyalahgunaan narkoba adalah 1:100, maka diperlukan 42 ribu pekerja sosial,” ujarnya.

Lantaran banyaknya jumlah peksos yang dibutuhkan di lapangan, Agus berkelakar kepada para wisudawan untuk tidak takut menganggur. Sebab, lapangan pekerjaan sudah tersedia di depan mata.

“Para orang tua dan wisudawan tidak perlu khawatir sulit mencari kerja karena banyak sekali jika dilihat dari estimasi kebutuhan tersebut,” ucap Agus di hadapan 385 peserta wisuda.


Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita bersama wisudawan STKS Bandung (Foto:Medcom.id/Gervin Nathaniel Purba)


Peran Penting STKS Bandung

STKS Bandung, kata Mensos, berperan penting dalam mendukung kuantitas dan kualitas peksos profesional. Lulusan STKS Bandung harus dipastikan siap bekerja.

"Ada link and match dengan setting praktik peksos. Kurikulum pendidikan harus mendukung pengembangan pendidikan vokasi. Untuk itu diperlukan berbagai upaya pengembangan secara cepat, baik terkait kurikulum, maupun sarana dan prasarana pendidikan,” kata Agus.

Selain mencetak SDM profesional, STKS Bandung sebagai perguruan tinggi juga mempunyai tugas menyelenggarakan penelitian pekerjaan sosial dan pengabdian masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan laboratorium peksos, baik indoor maupun outdoor.

Politikus Golkar itu mengingatkan STKS Bandung agar meningkatkan peran dalam mengembangkan dan meningkatkan profesionalitas praktik pekerjaan sosial Indonesia. Berkenaan dengan hal ini, Kemensos mendukung dan berharap bentuk kelembagaan perguruan tinggi menjadi politeknik yaitu Politeknik Kesejahteraan Sosial segera dipercepat.

“Dengan demikian, dapat segera terjadi percepatan yang signifikan dalam upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas serta berbagai bidang kajian dan spesialisasi. Hal ini tentunya akan juga segera berdampak pada percepatan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Indonesia,” ucapnya.


(ROS)