Museum Gedung Sate Diresmikan

Jaenal Mutakin    •    Jumat, 08 Dec 2017 17:04 WIB
museum
Museum Gedung Sate Diresmikan
Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat -- istimewa

Bandung: Museum Gedung Sate diresmikan. Mulai pekan depan, masyarakat dapat mengunjungi museum yang terletak di bagian timur Gedung Sate tersebut secara gratis.

Kepala Bagian Publikasi Setda Jabar Ade Sukalsah mengatakan museum seluas 500 meter persegi itu digratiskan untuk umum hingga akhir Desember 2017. Selanjutnya, pengunjung diharuskan membayar tiket seharga Rp5 ribu .

"Waktu operasional pukul 10.00-16.00 WIB. Buka tiap hari, Senin libur," kata Ade di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 Desember 2017.

Menurut Ade, Museum Gedung Sate berisi tentang sejarah dan arsitektur Gedung Sate yang dinobatkan sebagai gedung terindah di dunia. Ada tiga segmen yang dapat dinikmati pengunjung, yaitu prolog, eksplorasi, dan kontemplasi.

Ketua Tim Museum Gedung Sate Ade Garnandi menjelaskan, museum ini dibangun karena Gedung Sate adalah lambang Jawa Barat. Selain itu, Gedung Sate juga memiliki nilai historis tinggi.

"Ada nilai-nilai perjuangan di dalam sini. Bahkan, ada yang sampai mengorbankan jiwa dan raganya demi melindungi status Gedung Sate sebagai milik bangsa Indonesia," katanya.

Museum Gedung Sate, lanjut Garnandi, dirancang selama dua tahun. Riset dilakukan hingga ke Belanda, karena Gedung Sate dibangun saat era kolonial.

Sedangkan, pembangunan fisik museum yang berada di lantai dasar Gedung Sate memerlukan waktu lima bulan. Tahap penyelesaian konten museum dilakukan dalam 3,5 bulan.

Meskipun bertema sejarah, pengunjung Museum Gedung Sate akan merasakan sensasi teknologi saat menggali informasi. Teknologi layar sentuh yang menyajikan informasi melalui grafis menarik, menjadi daya tarik atraksi Museum Gedung Sate.

Pengunjung juga dapat mencoba kaca mata virtual yang membuat kita seolah-olah menaiki balon udara mengelilingi Gedung Sate. Ada juga ruangan yang membuat pengunjung terlibat saat pengerjaan Gedung Sate, dengan teknologi augmented reality.

Di Museum Gedung Sate, kata Garnandi, pengunjung juga akan disuguhi sejarah Kota Bandung. Informasi bakal disajikan dalam bentuk teknologi digital, sehingga lebih mudah dipahami.


(NIN)