Dua Anak Diculik di Bandung untuk Dijadikan Pemulung

P Aditya Prakasa    •    Rabu, 17 Oct 2018 18:03 WIB
penculikan anak
Dua Anak Diculik di Bandung untuk Dijadikan Pemulung
Kepala Polrestabes Bandung Kombes Pol Irman Sugema bersama pelaku penculikan di Markas Polrestabes Bandung. Medcom.id/P. Aditya Prakasa

Bandung: Dua anak berinisial A, 9, dan WM, 13, menjadi korban penculikan di Kota Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Penculik bernama Fandi Zatmiko, 24, warga Bone, Sulawesi Selatan, menjadikan kedua anak sebagai pemulung di wilayah Kabupaten Sumedang.

Penculikan terjadi pada 9 Oktober 2018. Kedua korban tinggal di wilayah Kiaracondong, Kota Bandung, saat mengunjungi salah satu warung internet (warnet) yang berlokasi satu kilometer dari rumah mereka.

Keduanya bertemu dengan Fandi, yang diketahui sering bermain di warnet‎ tersebut. Pelaku membujuk korban untuk main ke Alun-alun Bandung. A dan WM pun mengikuti ajakan pelaku.

Bukan diantar ke tempat yang dijanjikan pelaku. Kedua korban, malah dibawa ke wilayah Sumedang.

Ibu korban, Nok Supriyati mengatakan korban bersama pelaku berjalan kaki selama empat hari. ‎Hal itu diketahuinya dari pengakuan anaknya.

"Anak saya jalan kaki lewat hutan-hutan. Terus selama empat hari, mereka juga enggak dikasih makan. Bahkan sempat tidur di kuburan," kata Nok di Markas Polrestabes Bandung, Rabu, 17 Oktober 2018.

Anaknya lebam-lebam di tubuh akibat kekerasan yang dilakukan pelaku. Nok mengaku telah mencari anaknya ke beberapa tempat. Nok pun kemudian melapor ke pihak kepolisian.

Drama penculikan berakhir setelah kedua anak tersebut ‎berhasil melarikan diri saat pelaku tertidur. Keduanya langsung melarikan diri dan meminta pertolongan warga. Warga yang menemukan korban, langsung menginformasikan ke kepolisian.

Setelah menerima informasi, polisi dari Polsek Kiaracondong, petugas langsung bergerak ‎untuk menangkap pelaku.

Kepala Polrestabes Bandung Kombes Pol Irman mengatakan motif pelaku menculik kedua anak tersebut untuk diperkerjakan. Pelaku juga kerap melakukan tindakan kekerasan ke korban.

"Pelaku sehari-hari bekerja sebagai tukang rongsokan," kata Irman.

Pelaku ditahan dan dijerat Pasal 80 dan atau 83 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Fandi terancam hukuman pidana minimal lima tahun penjara.


 


(SUR)