Suka Duka Menjadi Pengemudi Ojek Online di Bandung

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Kamis, 19 Oct 2017 11:13 WIB
ojek online
Suka Duka Menjadi Pengemudi Ojek <i>Online</i> di Bandung
Kantor Go-Jek di Jalan Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat -- MTVN/Octavianus Dwi Sutrisno

Metrotvnews.com, Bandung: Jam kerja yang bebas, banyak menjadi alasan seseorang mendaftar menjadi pengemudi angkutan online. Mereka bisa menentukan sendiri jam kerja dan waktu libur.

Yanto Damayanto, 48, salah satunya. Ia mengaku sudah dua bulan ini meninggalkan pekerjaan lamanya dan memilih sebagai pengemudi ojek online.

"Awalnya saya hanya coba-coba. Namun, setelah menjalaninya selama tiga hari, ternyata hasilnya lumayan dibandingkan saat saya bekerja dulu," kata Yanto saat ditemui Metrotvnews.com di Kantor Go-Jek, Jalan Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Kamis 19 Oktober 2017.

Ayah lima anak ini menjelaskan, sebelumnya dia sempat bekerja di proyek properti dengan penghasilan per hari Rp150 ribu. "Kalau di sini (ojek online), saya bisa dapat penghasilan bersih Rp180 ribu per hari. Ini minimnya, kadang lebih. Apalagi kalau kita jalan auto beat (tidak menutup aplikasi). Misalnya mulai pukul 05.00 WIB hingga 20.00 WIB," terangnya.

Menurut Yanto, sebagai pengemudi ojek online, dirinya hanya mengangkut penumpang. Ia bisa melayani berbagai aplikasi yang ada di Go-Jek, seperti Go-Resto, Go-Ride, Go-Sent, Go-Food, Go-Made, Go-Shop, dan Go-Mart.

"Sekarang orang-orang malas keluar rumah. Dengan aplikasi ini, mereka mudah untuk memesan apa pun," bebernya.

Pengemudi ojek online lainnya, Slamet, 38, mengaku sudah dua tahun menekuni profesinya. Menurutnya, mencari uang dengan angkutan online sangatlah mudah.

"Kita bisa cari uang di mana saja. Tinggal mengaktifkan aplikasi, kita langsung tersambung dengan penumpang. Tergantung kerajinan kita mencari yang mau order Go-Jek," tuturnya.

Slamet mengatakan, penghasilannya saat pertama kali menjadi pengemudi ojek online pada 2015 jauh berbeda dengan sekarang. "Dulu kita bisa dapat Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari. Sekarang paling Rp150 ribu per hari, paling besar Rp250 ribu. Karena sekarang semakin banyak yang menjadi pengemudi ojek online," paparnya.

Namun, kata Slamet, ada dukanya juga menjadi pengemudin ojek online. Duka yang dimaksud Slamet adalah saat dirinya mendapat order fiktif yang menyebabkan penilaian kerjanya hancur.

"Performa (penilaian kerja) dari kantor (Go-Jek) kan ada. Kalau kena order fiktif seperti ini, bikin kita jadi jelek. Yang seharusnya dapat bonus, jadi tidak. Akhirnya kita sakit hati," paparnya.

Slamet berharap, pemerintah bisa segera mengeluarkan regulasi angkutan online secara adil. Sehingga, tidak lagi terjadi bentrok dengan angkutan konvensional.

"Semoga kita bisa jalan seiringan, karena kita sama-sama cari rezeki," tandasnya.

Beda lagi dengan cerita Jejen Nurjaman, 31. Ia mengaku tertarik menjadi pengemudi ojek online hanya sebagai sambilan dari pekerjaan yang dijalaninya sekarang.

"Ini (Gojek) bisa jadi sambilan, karena jarak kerja saya lumayan jauh, Cimahi-Dago. Dengan menjadi driver Go-Jek, bisa nambah uang makan dan menabung," pungkasnya.


(NIN)