Produksi Tempe Terdampak Pelemahan Rupiah

Antonio    •    Rabu, 05 Sep 2018 16:11 WIB
kurs rupiah
Produksi Tempe Terdampak Pelemahan Rupiah
Ilustrasi pelemahan rupiah terhadap Dolar AS, Medcom.id - M Rizal

Bekasi: Pengusaha tempe di Bekasi, Jawa Barat, terkena dampak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah mengakibatkan harga kedelai meningkat. Sebab kedelai yang merupakan bahan pembuat tempe merupakan produk impor.

Baca: Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.925/USD

Misdar, pengusaha tempe di kawasan Margahayu, mengatakan dampak itu terasa dalam beberapa waktu terakhir. Pendapatan bersihnya menurun dari Rp3 juta menjadi Rp2 juta per bulan.

Sementara itu, harga kedelai meningkat sejak awal Ramadan 2018. Semula, harganya hanya Rp680 ribu per kuintal. Saat ini, Rabu, 5 September 2018, harganya naik menjadi Rp765 ribu per kuintal.

"Kalau kacang kedelai naik, saya bingung bagaimana menaikkan harga jualnya. Khawatir pelanggan kabur," kata Misdar di pabrik tempenya di Margahayu.

Misdar berprofesi sebagai pembuat tempe sejak 1994. Sejak itu pula, Misdar mempekerjakan dua orang karyawan.

Misdar mendapatkan kedelai sebagai bahan baku tempe di wilayah Dewi Sartika, Margahayu Bekasi Timur. Produk kedelai itu merupakan bahan baku impor.

Misdar menjual tempenya dengan harga Rp3 ribu sampai Rp12 ribu. Bila harga bahan baku naik, Misdar menghadapi dua pilihan agar usahanya tetap berjalan. Yaitu menaikkan harga kedelai dengan ukuran yang bervariasi atau mengurangi ukuran tempe.

"Itulah risikonya tukang tempe, mau enggak mau tetap jualan. Ke sini-sini naik terus (harga kacang kedelai), sampai sekarang," kata dia di Bekasi, Rabu, 5 September 2018.

Keluhan senada disampaikan Waytuni, 43, pengusaha tempe. Bukan hanya kedelai, harga plastik pun naik. Kata Waytuni, ia menggunakan plastik untuk mengemas tempe. 

Sedianya, harga plastik hanya Rp29 ribu per kilogram. Saat ini, harganya naik menjadi Rp32 ribu per kg.

"Kalau bisa kacang dan bahan lainnya jangan naik harganya, tetap normal saja," harap Waytuni.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terpantau menguat tipis dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.935 per USD. Sentimen negatif yang datang dari luar negeri masih menekan gerak rupiah yang sekarang ini nyaris menembus level Rp15.000 per USD.

Mengutip Bloomberg, Rabu, 5 September 2018, perdagangan pagi dibuka menguat ke Rp14.925 per USD. Day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.925 dengan year to date return di 10,11 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.671 per USD.

Di sisi lain, USD melonjak pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan para mitra dagang utama mendorong permintaan USD lantaran investor tidak memilih mata uang negara berkembang. Indeks USD yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang naik 0,31 persen ke 95,45. 

Lihat video:

?


(RRN)