Wasathiyah Islam Sudah Membudaya di Indonesia

Rizky Dewantara    •    Kamis, 03 May 2018 12:40 WIB
konferensi ulama
Wasathiyah Islam Sudah Membudaya di Indonesia
Utusan khusus Presiden Indonesia Joko Widodo untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban, Muhammad Sirajuddin Syamsuddin (tengah). (Medcom.id/Rizki Dewantara)

Bogor: Indonesia bisa menjadi refleksi wasathiyah Islam atau Islam moderat. Alasannya, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah  menempatkan kemajemukan di posisi teratas.

Hal itu disampaikan utusan khusus Presiden Indonesia Joko Widodo untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban, Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, dalam forum Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendikiawan se-dunia.

"Peran Indonesia dalam KTT tentang wasathiyah Islam memiliki peran sentral dan signifikan karena sebagai prakarsa acara ini. Kami memprakarsai acara ini karena wasathiyah Islam sudah menjadi budaya di Indonesia," ujar Syamsuddin, di Hotel Novotel Bogor, Jawa Barat, Rabu, 2 Mei 2018.

Din, sapaan akrabnya, menjelaskan negara peserta KTT sudah mengetahui wawasan wasathiyah Islam bisa diaplikasikan di Indonesia. Karena di negara lain belum semuanya mampu menerapkannya.

"Di negara lain jika ada perbedaan pendapat banyak yang menyelesaikan dengan cara kekerasan, berbeda dengan di Indonesia yang selalu mengunakan musyawarah mufakat. Kami menggunakan akal bukan otot dan kekerasan,"ungkapnya.

Din menuturkan, sejumlah delegasi dari luar negeri meminta Indonesia tetap menampilkan keteladan wasathiyah Islam. Sementara itu, implementasi wasathiyah Islam di Indonesia sudah diberikan kepada para peserta KTT.

Untuk arti wasathiyah Islam, Din menyatakan, tidak bisa dijabarkan dengan satu atau dua kosakata. Tetapi mengandung banyak pengertian.

"Ringkasnya, berada di posisi tengah, moderat, mengakui kemajemukan, dan bisa hidup berdampingan dengan damai serta penuh toleransi," terang Din.


(LDS)