Aliran Danau Tapal Kuda ke Citarum kembali Lancar

P Aditya Prakasa    •    Rabu, 05 Dec 2018 20:03 WIB
sungai
Aliran Danau Tapal Kuda ke Citarum kembali Lancar
Pantauan dari udara danau tapal kuda atau oxbow di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, yang terkoneksi dengan Sungai Citarum, dok istimewa

Bandung: Aliran delapan danau tapal kuda atau oxbow di Sungai Citarum, Jawa Barat, kembali lancar. Sampah yang menyumbat aliran oxbow telah disingkarkan.

Satu di antaranya oxbow di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Sebelumnya, sampah menumpuk dan menutup aliran kali.

"Lalu kami bekerja sama dengan Kodam III Siliwangi untuk membersihkan sampah," ujar Direktur Operasi dan Pengembangan Perum Jasa Tirta (PJT) II, Antonius Aris Sudjatmiko di Bandung, Rabu 5 November 2018.

Sekarang, fungsi kali kembali normal yaitu sebagai badan air. Kali di Bojongsoang, lanjut Antonius, tak bisa dipisahkan dari aliran Sungai Citarum.

PJT selaku operator Bendungan Ir H Juanda atau Bendungan Jatiluhur, telah menandatangani kesepakatan dengan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWS). Salah satunya kesepakatan soal mengembalikan kondisi yang sebelumnya berisi sedimen dan sampah. 

PJT II juga merupakan operator distribusi air baku untuk DKI Jakarta via Saluran Tarum Barat, dan penyedia air untuk irigasi pertanian di pantura Jabar via Saluran Tarum Timur. ‎

"Dikembalikan lagi fungsinya menjadi badan air dengan melakukan pengerukan. ‎Dalam kegiatan tsb, sepenuhnya didukung oleh Pangdam III Siliwangi serta para Komandan Sektor dan Gubernur Jawa Barat yang bertindak sebagai Koordinator," kata dia.

Antonius mengatakan, sungai mati ‎sangat bermanfaat untuk lingkungan sekaligus sebagai daya tampung air untuk mencegah banjir. Selain itu, juga mampu menampung air hingga bisa mengurangi debit air di badan sungai saat debit sungai sedang tinggi. 

"Kemudian untuk menjaga kesehatan lingkungan, ke depannya akan dikembangkan menjadi aktivitas air seperti perikanan budidaya, pariwisata dan lain-lain. Dengan mengembalikan kondisi sungai mati menjadi badan air yang bersih tentunya akan bermanfaat untuk kesehatan lingkungan," katanya.

‎Kemudian, kata dia, dari 14 oxbow yang terdapat di Sungai Citarum, telah dilakukan restorasi dengan cara melakukan pengerukan dan penataan di 8 lokasi oxbow. 

"Anggaran yang dikeluarkan untuk melakukan pengerukan dan penanganan sampah di 8 oxbow tersebut sekitar Rp 17,5 milyar rupiah‎," kata dia.

Selama selama 2017, telah dilakukan pengerukan di tiga lokasi oxbow. Tahun ini, dilakukan pengerukan di lima lokasi oxbow lainnya dan satu lokasi dilakukan pengerukan yang merupakan kelanjutan dari kegiatan pengerukan 2017, salah satunya yaitu di oxbow Rancamanyar, Kabupaten Bandung.

"Penanganan sampah yang dilakukan pada 2018 adalah dengan menimbun sampah tersebut dan membungkusnya dengan geotekstil dan geogrid atau lebih dikenal dengan geokomposit, selanjutnya ditimbun kembali dengan tanah dan akan ditanami rumput di atasnya. Teknik tersebut biasanya dikenal dengan sanitary landfill," kata dia.

Meski begitu, lanjut Antonius, PJT II menemukan sejumlah kendala dalam normalisasi oxbow. Di antaranya bangunan tidak berijin pada lokasi lahan oxbow, serta kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah terutama sampah domestik ke badan sungai.‎

"Harapan ke depan adalah partisipasi aktif dari masyarakat untuk menjaga kondisi kualitas lingkungan dengan tidak membuang sampah dan limbah ke badan sungai, serta dengan menjaga apa yang telah direstorasi dan diperbaiki agar tetap dalam kondisi baik, bersih dan jauh lebih baik lagi," ujarnya. ‎


(RRN)