Dituding Tidak Profesional, Polsek Cisauk Didemo Warga

Farhan Dwitama    •    Kamis, 18 Oct 2018 16:39 WIB
penganiayaan
Dituding Tidak Profesional, Polsek Cisauk Didemo Warga
Sejumlah warga melakukan demo di depan kantor Polsek Cisauk, Tangerang, Banten, Kamis, 18 Oktober 2018. Medcom.id/ Farhan Dwitama.

Tangerang: Ratusan warga Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten menggelar demo di depan Polsek Cisauk. Massa aksi mempertanyakan kejelasan kasus kekerasan yang terjadi di Kademangan, Setu, Tangerang Selatan.

Koordinator aksi, Suhendar mengatakan, tudingan bermula saat warga Cisauk, Mulyadi, 43 ditangkap setelah memukul Acong, pencuri ikan di empang milik Mulyadi di Kampung Kademangan, RT 04/03, Kademangan, Setu, Tangerang Selatan, Kamis, 4 Oktober, sekira pukul 02.00 WIB.

Namun bukannya menahan pencuri, petugas Polsek Cisauk menahan Mulyadi si pemilik empang.

"Pencuri ini justru malah bebas, sedangkan Mulyadi yang menjadi korban, sudah sekira lima hari berada di tahanan Mapolsek Cisauk," kata Suhendar yang juga perwakilan keluarga Mulyadi di depan Mapolsek Cisauk, Kamis, 18 Oktober 2018.

Suhendar menjelaskan, saat aksi Acong dipergoki Mulyadi, sempat terjadi adu mulut hingga berakhir pemukulan yang dilakukan Mulyadi terhadap Acong.

Usai pemukulan itu, Acong yang juga tetangga Mulyadi lantas memilih pulang ke rumah. Namun beberapa saat kemudian, Acong kembali menyambangi rumah Mulyadi seraya mempersenjatai diri dengan golok dan pacul.

"Pelaku datang kembali dan masuk ke halaman rumah korban, terus menantang korban agar keluar rumah sambil mengancam mau dibunuh segala macem. Tapi korban nggak mau terpancing, nggak mau keluar," ungkap Suhendar.

Beberapa saat kemudian, Acong meminta bantuan kepada salah satu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Selanjutnya, rumah Mulyadi didatangi sekira tiga mobil dari massa Ormas, mereka mengancam agar Mulyadi menyerahkan uang sebesar Rp15 juta sebagai ganti rugi atas pemukulan yang dilakukan terhadap Acong.

"Ada massa Ormas yang datang, dari BPPKB, mereka minta uang, dengan mengancam juga. Tapi ya tidak dipenuhi, selain orang nggak mampu, kan dia sebagai korban juga, masa pelaku pencurian justru mengintimidasi korban," jelas Suhendar.

Singkat cerita, pada 12 Oktober 2018, Mulyadi dan salah satu saksi dipanggil ke Mapolsek Cisauk atas laporan pemukulan terhadap Acong. Sejak itulah, Mulyadi ditahan atas dugaan penganiayaan terhadap Acong.

"Kasus pencurian itu awalnya kita laporkan ke Polsek Cisauk, tapi oknum polisi di sana menolak laporan kita, kita enggak tahu mungkin ada tekanan atau seperti apa," jelas Suhendar.

Sementara itu Wakapolres Tangerang Selatan, Kompol Arman mengatakan, pihaknya akan menginvestigasi kejadian yang dialami Mulyadi.

Arman membenarkan jika laporan yang ada menyebutkan bahwa kasus itu berawal saat Mulyadi memergoki Acong yang mencuri ikan di empangnya beberapa hari lalu.

"Kami akan menindaklanjuti aspirasi dari rekan mahasiswa dan warga yang berunjuk rasa hari ini, bahwa menurut mereka ada keberpihakan atau tidak profesionalnya dari penyidik kita tentang kasus itu. Jadi kasusnya berawal saat saudara A masuk ke empang saudara M, lalu tepergok saudara M, kemudian diketok kepalanya hingga berdarah," ungkap Arman di Mapolsek Cisauk.

Lebih lanjut dikatakan Arman, kepolisian akan memediasi kedua belah pihak, baik keluarga Muyadi dan Acong. Terkait pencurian itu, polisi sendiri mengaku belum menerima laporan dari pihak Mulyadi sejak awal kejadian.

"Saya belum menelusuri lebih jauh, karena kalau memang ada (laporan pencurian) itu akan kita proses," pungkas Arman.


(DEN)