Satu Pasien Difteri di Kabupaten Sukabumi Meninggal

Benny Bastiandi    •    Rabu, 20 Dec 2017 15:26 WIB
klb difteri
Satu Pasien Difteri di Kabupaten Sukabumi Meninggal
Pekerja menunjukan vaksin yang mengandung komponen difteri sebelum didistribusikan, di Bandung, Jawa Barat, Senin (18/12). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Sukabumi: satu dari tujuh pasien difteri di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meninggaldalam perawatan di RS Hasan Sadikin Bandung. Saat ini jasad santri di Pondok Pesantren Salafi Cibuntu itu sudah dimakamkan di kediamannya di Kampung Kopeng Desa Langensari Kecamatan Sukaraja.

Pasien difteri itu bernama Rahmat Alfian, 14. Sebelum dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung, terlebih dulu Rahmat mendapatkan perawatan di sebuah klinik dan RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi.

Awalnya pihak keluarga hanya menyangka Rahmat mengalami demam biasa saat berada di pesantren. Namun pada bagian lehernya mengalami pembengkakan.

Orangtuanya membawa Rahmat berobat ke klinik terdekat. Hasil pemeriksaan medis di klinik menyarankan Rahmat dirawat di rumah sakit.

"Baru pada Sabtu 16 Desember, pasien dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung karena kondisinya makin parah," terang Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Harun Alrasyid.

Hampir tiga hari mendapatkan perawatan intensif di RS Hasan Sadikin, kata Harun, pasien meninggal pada Selasa 19 Desember dinihari. Jasadnya sudah dibawa pihak keluarga dan langsung dikembumikan di tempat pemakaman umum di dekat kediamannya.

"Saat ini ada enam pasien yang mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Lima orang statusnya masih suspect dan satu orang lagi positif," ujar Harun.

Satu pasien positif bernama Muhamad Said, 7. Ia tak lain merupakan adik kandung Rahmat Alfian. Saat ini Muhamad Said dirawat di ruang isolasi di RSUD Sekarwangi Cibadak.

Kabupaten Sukabumi sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) menyusul temuan kasus difteri. Pasalnya, kata Harun, satu temuan kasus difteri saja sudah dianggap KLB. "Temuan kasus dugaan difteri ini tercatat selama Januari hingga Desember," sebutnya.

Penanganan terhadap pasien suspect difteri jadi prioritas. Penanganannya pun dilakukan secara bertahap. 

"Kami prioritaskan penanganannya. Pertama dilakukan dengan memobilisasi penyakitnya untuk segera ditangani dan dirujuk. Kemudian kami laksanakan penyelidikan epidemiologi. Untuk pemeriksaan, pasiennya kami bawa ke rumah sakit kemudian check red-nya diambil untuk dikirim sebagai bahan pembanding. Nanti ini untuk menentukan apakah jelas positif difteri atau bukan," tegas Harun.

Sebagai satu di antara penyakit mematikan, kata Harun, kepada petugas juga perlu peningkatan kewaspadaan dini. Artinya, para petugas yang menangani pasien difteri perlu pengamanan ekstra. 

"Memang penyakit ini sangat berbahaya dan menular. Kalau tidak ada penanganan baik dalam jangka waktu 1x24 jam atau 3x24 jam, pasien bisa meninggal. Tapi alhamdulillah, temuan kasus difteri di Kabupaten Sukabumi selama tahun ini tidak sampai ada yang makan korban jiwa," tambah dia.

Harun menyebutkan gejala umum difteri bisa diketahui kasat mata. Di antaranya korban mengalami demam tinggi, nyeri tenggorokan, timbul bercak atau bintik putih pada leher atau biasa disebut bull neck, dan kadang-kadang mengalami sesak nafas. Penyebaran bakterinya relatif cepat karena bisa melalui udara.

"Makanya pasien difteri atau yang masih suspect dirawat di ruang isolasi atau tempat perawatan khusus. Bagi keluarga yang menunggu atau petugas yang menanganinya juga dipersiapkan semacam alat perlindungan diri supaya tak tertular," ujarnya.


(ALB)