Karnaval World Ethnic Festival Tutup Rangkaian Hari Jadi Purwakarta

Reza Sunarya    •    Minggu, 28 Aug 2016 15:26 WIB
purwakarta ads
Karnaval World Ethnic Festival Tutup Rangkaian Hari Jadi Purwakarta
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi membuka karnaval World Ethnic Festival. Foto: MI/Reza Sunarya

Metrotvnews.com, Purwakarta: Ratusan ribu warga antusias mengikuti acara bertajuk World Ethnic Festival yang menjadi rangkaian penutup hari jadi ke-48/185 Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. 

Acara ini diisi pawai etnik kebudayaan dari Taman Pembaharuan, Jalan Veteran menuju Taman Pesanggarahan Padjadjaran di Jalan Mr. Dr. Kusumaatmadja. Perwakilan dari 10 negara dari berbagai benua turut memeriahkan acara yang berlangsung pada Sabtu malam 27 Agustus ini.
 
Sebagai pembuka acara adalah kereta kencana Ki Jaga Raksa yang keluar dari halaman Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta di Jalan Veteran. Kereta yang pernah membawa bendera pusaka dari Monas menuju Istana pada peringatan hari kemerdekaan itu ditarik empat ekor kuda yang didatangkan secara khusus atas kerja sama pemerintah Purwakarta dengan TNI dan Polri.

Setelah kereta kencana bersiap di hadapan Patung Gus Dur untuk memulai pawai, terlebih dahulu disajikan tarian bernuansa etnik yang menceritakan tentang mata pencaharian orang Sunda yang berfokus pada sektor agraris. 

Selain tarian tersebut, tersaji juga tarian tentang Prabu Siliwangi yang selama ini sudah menjadi ikon Kabupaten Purwakarta dalam mengamalkan nilai-nilainya melalui konteks kebijakan pemerintah daerah.



Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan manusia tidak pernah bisa dilepaskan dari unsur etnik. Malah, kata dia, karena unsur etniklah manusia dapat bertahan hidup karena darinya terbangun nilai-nilai kebudayaan dan peradaban.

“Etnik itu identitas kemanusiaan, darinya manusia membangun kebudayaan dan peradaban. Sehingga, sejatinya tanpa hal yang bersifat etnik, kita belum menjadi manusia seutuhnya,” kata Dedi.

Sebanyak 60 ekor kuda kemudian mulai bergerak menuju Taman Pesanggrahan Padjadjaran (Alun-alun Purwakarta) setelah sepanjang perjalanan disambut oleh antusiasme ribuan warga. 

Setibanya di taman, seluruh delegasi unjuk kebolehan satu per satu. Di taman itu dihadirkan nuansa etnik sunda seperti ‘leuit’ (tempat penyimpanan padi hasil panen orang Sunda) dan ‘ranggon’ (Saung bambu tempat petani mengusir hama padi dengan menarik tali yang dipasangi kaleng atau plastik).

Delegasi Mesir menampilkan kesenian Tanoura, sebuah tarian bernuansa sufi khas Timur Tengah yang kemudian diadopsi oleh Syaikh Jalaludin Rumi menjadi tarian Sema. 

Delegasi Meksiko menghadirkan pertunjukan khas Suku Aztec yakni Tlanextli Tlacopan Gorenka. Sementara delegasi Selandia Baru membawakan sebuah tarian bernama Pounamu.

Delegasi dari Amerika Serikat tidak ingin kalah unjuk gigi. Dengan telaten mereka menampilkan tarian Suku Indian bernama Houp.



Jepang tampil dengan seni Nowadaiko, sementara Rusia menampilkan tarian rakyat Folk Dancing. Semangat kebebasan antipolitik apartheid tercermin dari tarian yang dibawakan delegasi Afrika Selatan.

Delegasi Australia mengentak penonton dengan Aboriginial Dance. Penonton pun dibuat berdecak kagum dengan penampilan dari Tiongkok  yang menghadirkan Kungfu Shaolin. Sementara delegasi Indonesia tampil memukau dengan tarian Jaipong yang dipadukan dalam balutan musik kontemporer.

Komentar dari penonton pun bermunculan. Aditya, 26, warga DKI Jakarta, tidak mampu menyembunyikan kekagumannya atas suguhan kesenian etnik ini. Dia mengaku sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk datang khusus ke Purwakarta karena melihat promo acara melalui media sosial.
 
“Luar biasa sekali acara ini. Kesenian dari Indonesia bisa satu panggung dengan kesenian-kesenian dunia. Saya kira ini kegiatan positif untuk menunjukkan bahwa bangsa kita juga punya khazanah kebudayaan yang kuat,” ujar Aditya.


(UWA)