Masyarakat Sekitar Citarum Mulai Sadar Lingkungan

Roni Kurniawan    •    Kamis, 26 Apr 2018 08:27 WIB
sungainormalisasi sungaipencemaran sungai
Masyarakat Sekitar Citarum Mulai Sadar Lingkungan
Aliran Sungai Citarum di kawasan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu, 25 April 2018. Foto: Medcom.id/ Roni Kurniawan.

Bandung: Kesadaran masyarakat Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum mulai berubah seiring dengan hadirnya program 'Citarum Harum' yang digalakkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebagian masyarakat di sekitar sungai terpanjang di Jawa Barat itu kini sudah mengubah pola hidup mereka demi merawat lingkungan tempat tinggal.

Menurut Kepala Penerangan Daerah Militer (Kapendam) III Siliwangi, Kolonel Arh Desi Ariyanto, sebagian masyarakat di bagian hulu Citarum sudah mulai mengubah pola bertani. Tidak lagi hanya mengedepankan aspek ekonomi hasil pertanian, tetapi juga ekologi. 

"Permasalahan di hulu itu kan hutan gundul dan masyarakat kebanyakan kerja jadi buruh tani perkebunan kentang. Sekarang mereka sudah mulai sadar bahwa hal itu akan merugikan," kata Desi di Bandung, Rabu, 25 April 2017.

Sementara itu, berdasarkan data dari Balai Besar Sungai Citarum tahun 2016, lahan kritis Sungai Citarum sudah mencapai 26.022 hektare (20 persen) dan terjadi erosi sebesar 592.11 ton per hektare per tahun

Kini, lanjut Desi, para petani di sekitar Citarum mulai menanam berbagai buah-buahan, kopi dan tanaman berbatang keras lainnya. Keinginan mengubah komoditas pertanian ini juga difasilitasi oleh Satgas Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Citarum dengan menyediakan bibit.

"Kita akomodir mereka pengennya tanam apa, misalnya buah-buahan kita wadahin juga. Siapkan bibitnya, dan sudah ribuan pohon ditanam. Jadi tidak nanam lagi sayuran yang tidak punya kekuatan ekologis atau menahan longsor," tutur Desi.

Desi mengatakan, perubahan komoditas pertanian ini tidak akan langsung berdampak bagi lingkungan sekitar Citarum. Namun hal itu akan untuk program jangka panjang guna melestarikan kembali Citarum.

"Tapi ke depannya mereka sudah mandiri dalam bertani, dan setidaknya kini sudah tidak lagi jadi buruh," jelas Desi.

Terkait limbah, masyarakat sekitar Citarum juga telah diberikan edukasi sehingga tumbuh kesadaran untuk tidak membuang sampag sembarangan. Hal ini sangat penting mengingat akhir tahun 2017, Tim Survei Kodam III Siliwangi mencatat sebanyak 20.462 ton sampah organik dan anorganik dibuang ke Sungai Citarum serta tinja manusia mencapai 35,5 ton per hari dan kotoran ternak 56 ton per hari.

Terkait limbah sampah, sambung Desi, Satgas Citarum menyediakan tempat pembuangan sampah (TPS) sementara di dekat permukiman warga.

"Kenapa banyak sampah di Citarum? Ternyata mereka bingung mau dibuang kemana. Tempat sampah penuh. Ini yang dibetulkan Satgas Citarum. Setelah sosialisasi, akhirnya di beberapa tempat dibuat TPS sementara," pungkas Desi.


(DEN)