Pemda Tanggung Biaya Pengobatan 12 Anak Korban Diduga PCC

Kristiadi    •    Selasa, 26 Sep 2017 12:22 WIB
pil maut pcc
Pemda Tanggung Biaya Pengobatan 12 Anak Korban Diduga PCC
Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum menjenguk korban keracunan obatkeras mirip PCC berada di Rumah Sakit Jasa Kartini, Kota Tasikmalaya masihterbaring lemas setelah mengkonsumsi bersama 12 orang temannya. (Kristiadi/AD):

Metrotvnews.com, Tasikmalaya: Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum menjenguk korban keracunan obat keras mirip Paracetamol, Acetaminofen, Caffeine (PCC) di Rumah Sakit Jasa Kartini, Kota Tasikmalaya. Pemerintah daerah akan menanggung semua biaya pengobatan bagi keluarga tak mampu terutama yang masih dirawat. 

"Kami sangat prihatin. Kejadian yang terjadi sekarang ini mudah-mudahan pertama dan terakhir, agar orang tua dan guru harus selalu mengawasi anak-anaknya di lingkungan masyarakat dan juga lingkungan sekolah," katanya, Selasa 26 September 2017.

Baca: 12 Anak di Tasikmalaya Kejang-kejang Diduga Konsumsi PCC

Uu mengatakan, kejadian yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya ini tentunya akan didorong dengan meningkatkan pendidikan agama tambahan bagi siswa SD dan SMP sekalipun banyak menentang memberlakukan program tersebut. Sedangkan penambahan jam pelajaran bagi mereka agar pelajar dengan mudah terawasi oleh guru dan orang tuanya terutama habis sekolah langsung pesantren.

"Pemerintah daerah akan membantu keluarga pasien terutama dalam pengonbatan secara gratis sampai sembuh. Karena biaya itu tidak hanya untuk bencana alam saja, tapi bisa digunakan dalam pengobatan terutama bagi keluarga tidak mampu dan tidak akan diberikan kepada orang yang mampu," ujarnya.

Selain itu, Uu mengungkapkan selama ini pemerintah dan dinas kesehatan masih mengawasi beberapa penjual obat di masing-masing apotek dan jika tidak sejalan serta mendukung program pemerintah dan masyarakat akan dicabut ijin usahanya. "Kami tidak akan segan-segan akan melakukan pencabutan ijin usaha jika mereka tidak mendukung program pemerintah daerah," paparnya.

Wakil Direktur Pelayanan Budiyanto mengatakan, pasien yang dirawat masing-masing telah mengkonsumsi obat kemasan berbeda berwarna pink dan putih hingga mereka mengalami muntah, pusing dan kejang-kejang serta tidak sadarkan diri dengan kondisi badan lemas karena telah mempengaruhi syaraf pusat.

"Obat keras yang telah dikonsumsi oleh korban semuanya telah mengalami kejang-kejang karena telah menganggu syaraf pusat dan jika dipergunakan berlebihan akan mengalami overdosis dan berdampak pada kematian. Sedangkan obat tersebut juga bisa mendapatkan reflay dan tenang, tetapi obat tersebut memang berbahaya jika tidak menggunakan resep dokter," katanya.




(ALB)