15 Tahun Lalu, Citarum Jadi Sungai Pelepas Penat

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Selasa, 23 Jan 2018 19:10 WIB
sungai
15 Tahun Lalu, Citarum Jadi Sungai Pelepas Penat
Kondisi aliran Sungai Citarum, Kabupaten Bandung, dengan sampah bertebaran, Selasa 23 Januari 2018, Medcom.id - Octa

Bandung: Lain dulu, lain sekarang. Ungkapan itu menggambarkan kondisi Sungai Citarum, Jawa Barat. Perubahan terjadi dan dirasakan warga di bantaran Citarum.

Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Tanah Pasundan. Panjang aliran sungai kurang lebih 300 kilometer yang melintasi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Cianjur, Bandung Barat, Purwakarta, lalu bermuara di Karawang.

Selasa 23 Januari 2018, Medcom.id mendatangi Desa Andir, Kabupaten Bandung. Lokasinya tepat di pinggir aliran Citarum.

Yusron, warga setempat, berbagi cerita soal Citarum 15 tahun lalu. Waktu itu, kenangnya, banyak ikan di dalam sungai. Saban sore, banyak warga memancing atau menikmati aliran sungai yang jernih sebagai pelepas penat.


(Seorang warga melintasi gang yang berdampingan dengan selokan penuh sampah yang menutup aliran air ke Citarum, Kabupaten Bandung, Selasa 23 Januari 2018, Medcom.id - Octa)

"Selain memancing, banyak warga yang cari uang dengan mencari pasir di sungai," kenang pria berusia 60 tahun ini.

Itu dulu, saat pepohonan hijau masih asri di pinggir sungai. Kini, perumahan dibangun. Puluhan pabrik beroperasi di bantaran.

"Sekarang, kalau malam terasa sekali tercium bau yang tidak enak dari air sungai. Sungai terbagi dua, yang kiri kali Cisangkuy (kampung muara) dan yang kanan kali Citarum, yang tercium kuat itu di kali Citarum," bebernya.

Bila dulu banyak ikan, saat ini sampah bertebaran. Sampahnya bermacam-macam. Ada plastik, styrofoam, kertas, bahkan limbah medis. Semua sampah bercampur dengan lumpur.

Banjir pun menjadi masalah dari tahun ke tahun. Tapi, warga seolah terbiasa dengan kondisi itu. Selanjutnya, Yusron menerangkan sampah juga masih banyak terlihat bertebaran di kali. Menurut dia, hal tersebut memperlihatkan belum disiplinnya masyarakat untuk membuang sampah. Sehingga dampaknya, wilayah Andir dan Dayeuhkolot menjadi lokasi langganan banjir.

"Ya beginilah, masyarakat di sini sudah tidak aneh bila terjadi banjir dan ini sudah terjadi selama belasan tahun. Jadi bisa dirasakan, sudah air sungai bau dan banjir pula," ungkapnya.


(Kondisi sebuah rumah yang tak terurus lantaran banjir dari Sungai Citarum kerap menerjang, Selasa 23 Januari 2018, Medcom.id - Octa)

Yusron lalu mengajak Medcom.id berjalan masuk ke sebuah gang di Desa Andir. Beberapa rumah rusak, ada yang nyaris ambruk. Rumah tak terawat karena banjir kerap menerjang.

Uyay, 58, pun bercerita. Warga Desa Andir itu tinggal tak jauh dari kali. Semasa masih muda, ia biasa meminum air sumur yang lokasinya berdekatan dengan sungai. Ia juga menggunakannya untuk memasak dan mandi.

Saat ini, ia mengonsumsi air yang didapat dengan menggunakan mesin pompa. Sebab, air tanah di dekat sungai kotor dan bau.

"Tapi pakai jet pump, air masih sedikit bau," ungkapnya.

Airnya pun hitam. Saat hujan deras mengguyur, sungai meluap.

"Airnya kalau banjir kelihatan sekali. Hitam pekat dan bau kalau terasa di kulit bisa gatal-gatal," katanya.



(RRN)