Tsunami di Selat Sunda

Kesedihan Bocah Buruh Pelelangan Ikan di Pandeglang

Hendrik Simorangkir    •    Jumat, 28 Dec 2018 16:46 WIB
Tsunami di Selat Sunda
Kesedihan Bocah Buruh Pelelangan Ikan di Pandeglang
Danu, bocah usia 12 tahun, menatap bangunan pelelangan ikan yang menjadi tempatnya bekerja sebelum tsunami menerjang pesisir Pandeglang, Medcom.id - Hendrik

Tangerang: Danu tak lagi bisa bekerja di tempat pelelangan ikan di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten, seperti hari-hari sebelumnya. Tempatnya bekerja hancur digulung gelombang tsunami pada Sabtu, 22 Desember 2018.

Usianya masih 12 tahun. Namun ia tak bisa bersekolah layaknya anak-anak lain. Ia putus sekolah dan bekerja di pelelangan ikan untuk menopang kebutuhan hidup.

Jumat, 28 Desember 2018, ia hanya menatap bangunan yang kini hanya tersisa reruntuhan. Padahal, sepekan lalu, ia masih jadi buruh di bangunan tersebut.

Danu bercerita, saat itu, ia tengah membantu bosnya berjualan ikan. Ia melihat air laut surut tiba-tiba.

"Tidak ada firasat apa-apa. Apalagi saya tidak merasakan gempa," ujar Danu di Labuan.

Tak lama kemudian, air surut berubah menjadi gelombang pasang. Gelombang mengarah ke daerah pantai termasuk tempatnya bekerja.

"Tapi waktu itu warga belum panik. Gelombang masih dianggap biasa," ujar Danu.

Gelombang kedua datang dan merusak bangunan di pesisir. Warga panik dan menyelamatkan diri.

Lalu, gelombang ketiga dan keempat pun datang. Tingginya sekitar lima meter.

"Saya lalu panik dan lari ke tempat yang lebih tinggi, sambil saya berteriak-teriak bilang ada gelombang tinggi," lanjut Danu.

Esoknya, ia kembali ke tempatnya bekerja. Ia menemukan dua jenazah persis di samping tempatnya bekerja.

"Sepertinya bukan orang sini (Labuan)," ungkap Danu.

Kini, anak tunggal itu mengaku sedih. Ia tak lagi bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarganya. 

Padahal dari hasil kerjanya, ia mendapat upah Rp50 ribu dengan kerja mulai pukul 07.00 sampai dengan 24.00 WIB. Ia bekerja sebagai buruh angkut yang membawa ikan dari kapal nelayan ke pelelangan.

Danu tinggal bersama ayah dan neneknya di sebuah rumah di Labuan. Sementara ibunya sudah bercerai dari ayahnya dan tinggal di daerah Jawa Barat.

Ayahnya pun bekerja sebagai buruh angkut di pelelangan. Uang hasil keringat Danu dan ayahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kesedihan meliputi Danu. Kini, ia tak bisa lagi bekerja di pelelangan ikan. Ia dan ayahnya pun hanya bisa mengharapkan bantuan dari relawan.


(RRN)