Bupati Purwakarta Larang Siswa Miskin Pakai Seragam ke Sekolah

Reza Sunarya    •    Senin, 17 Jul 2017 15:02 WIB
berita purwakarta
Bupati Purwakarta Larang Siswa Miskin Pakai Seragam ke Sekolah
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Foto:Reza Sunarya)

Metrotvnews.com, Purwakarta: Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengeluarkan larangan menggunakan seragam sekolah mulai baju sampai sepatu bagi siswa kurang mampu di wilayahnya.

"Saya mengeluarkan larangan penggunaan seragam sekolah baik baju mau pun sepatu bagi siswa yang tak mampu," kata Dedi Mulyadi, Senin, 17 Juli 2017.

Larangan tersebut dijelaskan Dedi, bertujuan agar para siswa tak ada alasan malu pergi ke sekolah karena tak mampu membeli seragam sekolah. Dedi juga meminta seluruh kepala sekolah dasar dan menengah pertama agar melaporkan siswa yang tak menganakan seragam karena tak mampu.

"Nanti kepala sekolahnya langsung lapor ke saya dan akan diberikan kelengkapan seragam sekolah bagi mereka melalui sistem gotong-royong yang selama ini terbangun di Purwakarta," kata Dedi.

Larangan penggunaan seragam tersebut sebagai langkah antisipasi supaya tak ada jurang perbedaan antara siswa miskin dan kaya. Sebab, sejatinya pendidikan tak membedakan strata ekonomi seseorang.

"Sebetulnya permasalahan seragam bagi siswa saat akan masuk sekolah menjadi sangat krusial hampir setiap tahunnya. Saya pun mengeluarkan larangan ini agar semua pelajar di Purwakarta bisa mendapatkan hak pendidikannya secara layak tanpa ada sekat kondisi ekonomi," ujar Dedi.

Dedi pun mengimbau kepada seluruh orang tua yang kurang mampu untuk tak malu membiarkan anaknya tak pakai seragam ke sekolah. Pihaknya pun akan langsung membantu menyediakan kelengkapan sekolahnya secara gratis.

"Kepada para orang tua yang tak memiliki kemampuan, biarkan saja anaknya tak pakai seragam sekolah. Jangan sampai menghambat anaknya mendapatkan pendidikan gara-gara permasalahan seragam. Terus kata siapa juga mendapatkan pendidikan harus diseragamkan? Pakaian itu sebagai pelengkap saja. Yang paling penting mendapatkan pendidikannya," kata Dedi tegas.

Peraturan tersebut juga sebagai bentuk konkret penerapan prinsip "Prihatin Bagi yang Miskin Berbagai Bagi yang Kaya." Artinya, bersekolah untuk mendapatkan pendidikan dengan kemampuan yang dimilikinya, dan bagi orang kaya jangan pamer saat berada di sekolah.

"Saya melarang orang tua murid mengantar anaknya ke sekolah memakai mobil atau kendaraan. Kalau yang diantarkan pakai kendaraan, satu kilometer sebelum ke sekolah sudah harus berhenti. Biarkan anaknya berjalan kaki ke sekolah," tutur Dedi.


(ROS)