Bandara Kertajati

Gas Air Mata Meletus Setelah Polisi Terkena Ketapel

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Kamis, 17 Nov 2016 15:19 WIB
Gas Air Mata Meletus Setelah Polisi Terkena Ketapel
Ribuan personel berjaga saat pengukuran tanah terdampak Bandara Kertajati, di Desa Sukamulya, Majalengka, Kamis 17 November 2016. Foto: Polda Jabar

Metrotvnews.com, Bandung: Pengukuran lahan proyek Bandara Kertajati atau Bandara Internasional Jawa Barat, di Desa Sukamulya, Kabupaten Majalengka, ricuh. Massa menolak rencana pembuatan Bandara Kertajati yang melewati lahan pertanian mereka.

Polisi menembakkan gas air mata setelah diserang ketapel dan lemparan batu oleh warga yang menolak pengukuran. Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan terpaksa mengambil tindakan itu setelah warga mencoba menggagalkan pengukuran lahan.

Menurutnya, warga sempat melempar petugas dengan batu sebanyak dua kali.

"Pengukuran lahan ini kan sistemnya geser-geser dari lahan satu ke lahan lain, petugas juga ikut geser. Nah, warga memanas. Mereka yang menolak mencoba mengganggu pengukuran. Awalnya warga lempar-lemparan ke arah petugas, yang kedua kalinya petugas ambil tindakan dengan menembakkan gas air mata," kata Yusri saat dihubungi Metrotvnews.com, Kamis (17/11/2016).

Baca: Polisi Tembakkan Gas Air Mata di Lokasi BIJB Kertajati

Selanjutnya, Yusri menerangkan, usai menembakkan gas air mata, warga langsung membubarkan diri. "Saat ini sudah kondusif. Warga membubarkan diri. Polisi masih di lokasi mengantisipasi tindakan warga," ujarnya.

Sebelumnya, hingga pukul 14.00 WIB situasi pengukuran lahan di lokasi proyek pembuatan bandara Kertajati berjalan kondusif. Situasi memanas sekitar pukul 14.30 WIB.

Lahan warga di Desa Sukamulya yang terdampak pembangunan Bandara Kertajati atau Bandara Internasional Jawa Barat seluas 740 hektare. 

Bandara Kertajati akan dibangun di atas lahan 1.800 hektare. Di sekitar bandara akan dibangun kawasan perdagangan, jasa, dan bisnis atau aerocity dengan total luas lahan 3.400 hektare. Rencananya pembangunan bandara rampung di akhir 2017.
(UWA)