Kisah Mahasiswi UNPAR Mendaki Puncak Jaya hingga Akonkagua

Gervin Nathaniel Purba    •    Jumat, 17 Aug 2018 10:00 WIB
UNPAR
Kisah Mahasiswi UNPAR Mendaki Puncak Jaya hingga Akonkagua
Dian Indah Carolina, mahasiswi UNPAR menjadi bagian tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition (Wissemu) -- (Foto:Dok.UNPAR)

Bandung: Tak hanya mengutamakan prestasi akademik, Universitas Katolik Parahyangan Bandung (UNPAR) juga turut mendukung mahasiswanya berprestasi di bidang non-akademis. Hal ini bisa diliat dari kesuksesan mahasiswi UNPAR yang berhasil mendaki puncak Carstensz Pyramid, Kilimanjaro, dan Elbrus. 

Dia adalah Dian Indah Carolina, yang menjadi bagian dari tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition (Wissemu). Caro, begitu dara manis ini biasa disapa, menceritakan pengalamannya saat menaklukkan ketiga gunung tersebut. 

“Setiap gunung memiliki cerita tersendiri,” kata Caro, mengawali perbincangan. Dia mencontohkan, Carstensz Pyramid atau Puncak Jaya yang berlokasi di Provinsi Papua, merupakan salah satu destinasi pendakian paling mahal dari segi pembiayaan.

Menurutnya, hal ini karena pengelolaan yang masih minim dan lokasinya berada di satu lingkungan yang sama dengan PT Freeport Indonesia. Namun demikian, ada banyak tim yang membantu mereka saat mendaki puncak gunung, termasuk tim dari PT Freeport Indonesia. Puncak Jaya menjadi pendakian perdana Caro sebagai anggota Wissemu pada 2014.

“Itu pertama kalinya aku naik gunung yang tinggi banget di Indonesia. Di situ keseruannya. Pertama kali mencoba (pendakian) di gunung tinggi. Keindahan alamnya bagus banget," ujarnya.

Tim Wissemu terdiri atas empat orang, yakni Caro, Dee Dee, Hilda, dan Zulfikasari. Namun karena beberapa kendala, Zulfikasari harus mundur dan tidak bisa mengikuti pendakian selanjutnya.

 

Caro bercerita tentang pengalamannya mencapai puncak gunung dengan ketinggian 4.000 mdpl membuatnya merasakan penyakit Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian. Dia mengalami pusing yang luar biasa. Walau begitu, dia bertekad pendakian harus tetap dilanjutkan.

“Rasanya pusing banget. Oh, ini rasanya penyakit ketinggian. Itu yang harus dihadapi,” ujarnya mengenang perjalanan pendakian perdananya.

Usai menaklukkan Puncak Jaya, Tim Wissemu melanjutkan petualangan ke Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Gunung Elbrus di Rusia, dan Gunung Akonkagua di Argentina. Namun langkah Caro terhenti di Gunung Akonkagua karena dia menderita penyakit AMS lagi. Kali ini, lebih parah dibandingkan saat berada di Puncak Jaya.

Menurutnya, daya tahan tubuh pendaki yang mengalami penyakit tersebut menjadi tidak teratur terhadap perbedaan ketinggian dan kecepatan pendakian. Caro merasakan pusing, mual, dan tidak nafsu makan. Akhirnya, Caro terpaksa harus turun karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinan untuk melanjutkan pendakian.

"Mereka (Dee Dee dan Hilda, Tim Wissemu) lanjut naik, dan aku turun lagi ke camp dibantu tim dan porter," ucap alumni mahasiswi jurusan Hubungan Internasional itu.

Kata Caro, Akonkagua termasuk destinasi pendakian dengan tenaga dan fasilitas medis yang mumpuni. Ketika sampai di camp, hari berikutnya Caro dijemput helikopter dan dibawa ke rumah sakit di kota terdekat di Argentina. Saat itu, Dubes Indonesia untuk Argentina, Sinaga, membantu penanganan di rumah sakit. 

“Begitu sadar, aku di ruang ICU. Ternyata aku sudah melewati dua hari. Ada pembuluh darah pecah di otak,” tutur Caro, yang juga aktif sebagai anggota Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala UNPAR).

Keputusan untuk turun gunung tak ayal membuatnya sedih dan menyesal. Namun di satu sisi, Caro juga tidak ingin menjadi beban tim. "Di Acon (Akonkagua), waktu disuruh turun, aku langsung mikir, enggak bisa lanjut (mendaki gunung lainnya). Aku enggak mau menjadi burden (beban),” ujar Caro.

Tim Support Wissemu

Sejak tidak aktif sebagai tim pendaki Wissemu, perempuan asli Bandung itu menjadi tim support bagi Dee Dee dan Hilda, mulai dari Gunung Denali hingga pendakian terakhir di puncak Everest. Perannya sebagai tim support Wissemu, yakni sebagai humas terkait urusan media.



"Aku yang memegang report mereka, humas mereka, dan segala hal yang berhubungan dengan media,” kata Caro. 

Dia menjelaskan, tim Support harus menyiapkan berbagai kebutuhan pendaki supaya perjalanan aman juga nyaman. Tim support juga yang mengurus perihal teknis latihan, sponsor, dan kerja sama dengan pihak media.

Pengalamannya mendaki gunung bersama Wissemu merupakan pengalaman luar biasa sepanjang hidupnya. Ia ingin mahasiswa/mahasiswi UNPAR ada yang bisa meneruskan kesuksesannya. Caro mengajak teman-teman Unparian untuk memanfaatkan berbagai peluang di luar kelas.

"Gunakan fasilitas (UNPAR) yang ada sebaik mungkin. Misalnya, ikut serta dalam acara-acara kampus. Jangan sia-siakan waktu hanya untuk di kelas. Waktu kuliah itu untuk mengeksplorasi dan berkarya,” ucapnya.



(ROS)