Tol Air tak Halau Banjir dari Jalan Pagarsih

Roni Kurniawan    •    Jumat, 23 Feb 2018 14:15 WIB
banjirbencana banjir
Tol Air tak Halau Banjir dari Jalan Pagarsih
Petugas kebersihan mengangkut sampah yang menumpuk di aliran Sungai Citepus, Jalan Pagarsih, Kota Bandung, Jumat 23 Februari 2018. Foto: Medcom.id/Roni Kurniawan

Bandung: Warga Jalan Pagarsih, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat, belum bisa lega ketika terjadi hujan. Banjir masih menghantui ketika hujan deras walau telah ada tol air di Jalan Pagarsih.

Banjir di kawasan Pagarsih kembali terjadi saat terjadi hujan lebat pada Kamis, 22 Februari 2018, malam. Tinggi air bisa mencapai satu meter dan melumpuhkan akses Jalan Pagarsih serta merendam ratusan rumah di Kelurahan Cibadak.

"Tahun ini baru lagi banjir. Kemarin-kemarin cuma genangan aja, tapi kemarin mah gede banjirnya," kata Gunawan, 45, salah seorang warga RW 02, Jalan Pagarsih, Kota Bandung, Jumat, 23 Februari 2018.

Gunawan mengaku, meski telah dibangun tol air oleh Pemerintah Kota Bandung dan diresmikan pada awal Februari kemarin oleh Ridwan Kamil, namun belum maksimal bisa mengatasi banjir di kawasan Pagarsih.

"Ada tol air juga belum maksimal. Air tetap meluap ke jalan," sambunya.

Tol air Pagarsih dibangun sejak September 2017 disebut Gunawan justru memperparah banjir terutama berada di kawasan Pagarsih bawah menuju ke persimpangan Astana Anyar. Pasalnya pembangunan tol air tersebut dibangun di tengah-tengah jalur Jalan Pagarsih, sehingga tak mampu menampung dan mengalirkan air yang meluap dari Sungai Citepus.

"Itu kan bikinnya kalau istilahnya di perut, bukan mulai dari kepalanya. Jadi air yang dari kepala sebelum perut itu meluap ke jalan. Jadinya ya tetep banjir," urainya.

Hal senada pun diungkapkan Elan petugas tim gorong-gorong kebersihan (Gober) Kelurahan Cibadak. Bahkan Elan mengaku cukup sulit untuk membersihkan dan mengangkut sampah yang berada di dalam tol air tersebut.

"Susah juga ngambil sampahnya. Karena kan harus masuk dulu ke dalam (tol air). Jadi kalau sampah mau diambil, harus nunggu dulu terbawa arus sampai ujung, baru bisa diambil," pungkas Elan ditempat yang sama.


 


(SUR)