Pengurangan Kesenjangan, Kunci Tingginya Elektabilitas Jokowi

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Jumat, 22 Dec 2017 17:01 WIB
pilpres 2019
Pengurangan Kesenjangan, Kunci Tingginya Elektabilitas Jokowi
Anggota Komisi XI DPR Maruarar Sirait saat mengunjungi Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Jawa Barat -- medcom.id/Octavianus Dwi Sutrisno

Bandung: Elektabilitas Joko Widodo dan Jusuf Kalla tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Jokowi dinilai mampu memberikan solusi bagi masalah pemerataan kesenjangan.

"Ada empat upaya pemerataan kesenjangan, dari dari Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), distribusi sertifikat tanah, dan dana desa yang luar biasa. Jusuf Kalla dan Jokowi diberi kesempatan untuk memimpin oleh masyarakat," kata anggota Komisi XI DPR Maruarar Sirait saat mengunjungi Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Jawa Barat, Kamis, 21 Desember 2017.

Bukti lainnya, lanjut Maruarar, terlihat dari stabilnya bidang politik. Terbukti saat pemilihan Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, penyusunan APBN, dan penetapan UU Ormas yang berjalan dengan baik.

"Secara garis politik, itu adalah fakta Jokowi-JK didukung mayoritas parlemen di Indonesia," bebernya.

Menurut Maruarar, kondisi saat ini berbeda jauh dengan 2014. Saat itu masih ada Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

Politikus PDI Perjuangan ini menjelaskan PDIP akan segera menggelar rapat kerja nasional (rakernas). "Ibu Megawati selaku ketua umum memegang hak prerogatif untuk menyampaikan siapa yang akan didukung (di Pilpres 2019). Tentu akan kita tunggu nanti yang akan dibuka secara umum kepada publik," pungkasnya.

(Baca: Survei CSIS: Elektabilitas Jokowi Melenting)

Sebelumnya, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) merilis survei kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla. Elektabilitas Jokowi disebut mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun.

Pada 2015, elektabilitas Jokowi sekitar 36,1 persen. Kenaikan fantastis terjadi pada 2016 sebesar 41,9 persen dan kini menjadi 50,9 persen.

Rival Jokowi, Prabowo Subianto, tak memiliki kenaikan elektabilitas yang besar. Pada 2015, elektabilitas Prabowo berada di angka 28 persen. Angka ini kemudian turun pada 2016 menjadi 24,3 persen. Pada 2017, Prabowo harus puas dengan angka 25,8 persen.

Ada banyak pilihan nama yang dimunculkan CSIS untuk menjadi calon presiden. Namun, tujuh nama lainnya mendapatkan dukungan tak lebih dari lima persen. Agus Harimurti Yudhoyono mendapatkan 2,8 persen dan Jenderal Gatot Nurmantyo mendapatkan 1,8 persen.


(NIN)