Kasus Pencabulan Anak Marak di Kabupaten Bogor

Mulvi Muhammad Noor    •    Jumat, 14 Oct 2016 17:43 WIB
kekerasan seksual anak
Kasus Pencabulan Anak Marak di Kabupaten Bogor
Ilustrasi/Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Bogor: Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kembali disibukkan dengan kasus pencabulan anak di bawah umur. Belakangan ini, kasus pencabulan di Kabupaten Bogor kembali menggurita dengan jumlah korban anak mencapai belasan orang dari dua perkara berbeda. 

Perkara pencabulan pertama melibatkan ZA, 68, mantan ketua RW di Kecamatan Ciomas. Ia ditetapkan sebagai tersangka Senin 10 Oktober. Pria paruh baya itu diduga mencabuli tujuh anak. Modusnya, ZA mengiming-imingi para korban dengan uang jajan Rp2 ribu hingga Rp5 ribu.

Dua hari berselang, Unit PPA Polres Bogor bersama Anggota Polsek Cibungbulang menangkap IY. Pria 45 tahun ini diduga mencabuli sebelas anak di bawah umur di Kelurahan Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Modus pencabulan IY tak berbeda dengan yang dilakukan ZA. Ia mengajak anak-anak yang bermain di depan rumahnya untuk masuk. Kemudian, IY mengajak korbannya menonton video porno di dalam kamar yang terkunci sambil melakukan hal yang tidak senonoh. IY mengancam akan menghabisi para korban yang rata-rata 4 hingga 10 tahun jika berani melapor.

Kepala Unit PPA Polres Bogor Aiptu Isa Ismail mengatakan masih mendalami dua kasus itu. Tidak menutup kemungkinan jumlah korban bisa bertambah, mengingat tak semua anak-anak dan orang tua melapor. 

"Kedua kasus ini masih kami dalami," kata Isa saat dikonfirmasi Metrotvnews.com, Jumat (14/10/2016). 

Isa mengatakan rata-rata peristiwa dalam dua kasus pencabulan ini terjadi sudah cukup lama. Bahkan ada yang terjadi sekitar satu tahun. Kendati demikian, hal itu tidak menjadi kendala Unit PPA mengungkapnya. 

"Sudah ada pengakuan tersangka yang kami sinkronkan dengan keterangan saksi-saksi. Dan sudah cukup dua alat bukti untuk menetapkan tersangka. Jadi waktu terjadinya peristiwa itu tidak menjadi kendala bagi kami," kata dia. 

Rentetan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di Kabupaten Bogor sempat menjadi sorotan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait menilai kasus-kasus itu menjadi kegagalan Pemkab Bogor memberi rasa aman dan nyaman kepada anak. 

"Negara tak memberikan rasa nyaman kepada anak. Orang tua juga lalai dan penegak hukum lemah," kata Arist saat menjenguk keluarga bocah korban pembunuham di Citeureup Februari lalu.


(UWA)