Ahli Geologi: Banjir tak Terjadi bila Lingkungannya Bagus

Laela Badriyah    •    Rabu, 16 Nov 2016 17:16 WIB
bencana banjir
Ahli Geologi: Banjir tak Terjadi bila Lingkungannya Bagus
Banjir di Pagarsih Bandung, MTVN - Octavianus

Metrotvnews.com, Jakarta: Cuaca seekstrem apapun, banjir tak akan terjadi bila lingkungannya bagus. Demikian disampaikan ahli Geologi, T Bachtiar melalui program Trending Topic Metro TV.

Bachtiar menyebutkan Kota Bandung, Jawa Barat, sebagai contoh dari wilayah yang termasuk dalam banjir perkotaan. Menurut Bachtiar, banjir di perkotaan akibat lingkungan yang buruk serta sistem drainase yang tak optimal.

Baca: Pagarsih Bandung Banjir Lagi

Bukannya pemerintah kota tak melakukan perbaikan drainase di Bandung. Hanya saja, lanjut Bachtiar, upaya itu belum optimal dan belum mengarah pada prioritas penanganan.

Bachtiar mengakui belasan titik di Bandung kerap terendam banjir sejak bertahun-tahun lalu. Misalnya Pagarsih yang sudah mengalami banjir sejak empat tahun lalu.

"Seharusnya, pemerintah memprioritaskan perbaikan drainase di titik yang banjir tiap tahun. Misalnya Pagarsih," kata Bachtiar. 

Agar saat hujan turun deras, lokasi itu dan lokasi terdampak lain aman dari banjir. 

Selain Pagarsih, beberapa titik banjir di Kota Bandung berdasarkan pantauan Metro TV yaitu:
- Jalan Pasirkalili
- Jalan Wastukancana
- Jalan Lodaya
- Jalan Pasirkoja
- Jalan Ahmad Yani
- Jalan Sukagalih
- Jalan Sudirman
- Jalan Waringin
- Jalan Laswi
- Jalan Burangrang
- Jalan Stasiun Timur
- Jalan Kebon Jati
- Jalan Caringin
- Jalan Otista
- Jalan Dr Djundjunan
- Kawasan Kopo
- Jalan Manado
- Jalan Serayu
- Kawasan di sekitar RS Mata Cicendo

Banjir beberapa kali menerjang Bandung dalam sebulan belakangan. Peristiwa terakhir, Minggu 13 November, banjir merendam sejumlah lokasi di Bandung termasuk RS Mata Cicendo dan Stasiun Bandung.

Menurut Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, banjir akibat dari cuaca ekstrem. Hujan turun deras ditambah angin kencang.

"Kapasitas hujannya tiga kali lipat dari biasanya," kata Emil dua hari lalu.

Namun, Emil enggan menyebutkan Bandung dalam kondisi darurat banjir. Sebab, banjir tak mengakibatkan warga mengungsi.

Baca: Emil Sebut Bandung belum Darurat Banjir

Meski demikian, Emil mengaku bukan berarti ia berdiam diri. Ia berkoordinasi dengan jajaran pemerintah kota untuk menangani banjir, satu di antaranya membuat tol air di Pagarsih.

Bahkan Pemerintah Kota Bandung mengalokasikan anggaran Rp5 miliar untuk menghadapi puncak musim penghujan yang diprediksi terjadi Januari 2017.  Anggaran itu disiapkan untuk menangani banjir yang kini sudah menerjang Kota Kembang.

Tol air menjadi salah satu solusi yang ditawarkan Pemerintah Kota Bandung untuk mengatasi banjir. Namun, pengamat tata ruang dari Institut Tekhnologi Bandung (ITB) Denny Zulkaidi meminta kebijakan itu tak buru-buru digulirkan.

Denny menyarankan pemerintah kota menyiapkan area untuk peresapan air. Ia mengkhawatirkan, bila pemerintah kota hanya menyediakan tol air tanpa area peresapan, makan daerah hilir tak akan mampu menampung air.

"Jadi, harus ada perubahan lagi seperti penambahan ukuran di hilir agar siap menampung air. Kapasitas hulu juga harus ditinjau," kata Denny.

Selain drainase, Denny meminta pemerintah menyediakan ruang terbuka hijau. Area itu akan mengoptimalkan penyerapan air hujan sehingga sungai tak meluap.



(RRN)