Hamsad Rangkuti Dikenal Pemberi Semangat Penulis Muda

Octavianus Dwi Sutrisno    •    Minggu, 26 Aug 2018 19:09 WIB
obituari
Hamsad Rangkuti Dikenal Pemberi Semangat Penulis Muda
suasana rumah duka di Depok, Jawa Barat

Depok: Sastrawan Indonesia Hamsad Rangkuti, dikenal keluarga sebagai seorang ayah yang baik bahkan selalu membuka diri, menceritakan keluh kesah kepada istrinya, Nurwinda Sari.

"Almarhum tidak pernah marah sama saya. Bisa dibilang dia suami terbaik dan jujur, apapun bentuknya permasalahannya selalu cerita ke saya pasti dikasih tahu. Jadi seluruh keluarga maupun rekan banyak yang suka," kata Nurwinda saat ditemui di rumah duka, Jalan Swadaya 8 RT 03, RW 03 Tanah Baru, Beji Kota Depok Minggu sore, 26 Agustus 2018.

Selain itu Nurwinda menuturkan, pria yang akhirnya tutup usia di usia 75 tahun itu dikenal menjadi teladan bagi rumah tangga dan anak-anaknya. Semasa hidup Hamsad selalu melarang istrinya memukul anak ketika bersalah.

Nurwinda juga menerawang jauh, ada satu sikap almarhum yang selalu diingat yaitu memberikan semangat untuk penulis muda.

Menurutnya, Hamsad selalu menggelorakan sikap pantang menyerah kepada seluruh penulis maupun seniman. Oleh sebab itu, almarhum dikenal sangat dekat bahkan meskipun gaek, orang-orang kerap memanggilnya Bang Hamsad.

"Dia bilang apa yang kalian akan tulis, ya sudah tulis saja tidak usah minder biar mereka (masyarakat) dan waktu yang  menilai jangan gentar dan takut. Makanya, dari anak-anak sampai yang dewasa selalu memanggil dia Bang," paparnya.

Hamsad sempat dirawat selama 3 bulan di RSUD Depok dan RS Siloam karena mengalami komplikasi penyakit, salah satunya jantung. 

"Beliau meninggal pukul 06.00 WIB, saya waktu itu sedang menyiapkan obat sekitar pukul 05.30 WIB," ujar Nurwinda. 

Hamsad menikah pada 1972 dengan Nurwindasari. Dari perkawinannya, mereka dikarunia empat anak: Bonang Kiswara, Girindra, Bungaria, dan Anggi Mauli.

Sebagai cerpenis, Hamsad memiliki keunikan dengan memublikasikan cerpen-cerpennya terlebih dahulu secara lisan dengan cara membacakannya. Baru kemudian ia memublikasikan cerpen tersebut secara tertulis dengan mengirimkannya ke media massa untuk dimuat.

Salah satu karyanya yang paling menarik yaitu novel berjudul Ketika Lampu Berwarna Merah. Novel tersebut mencerminkan paradoks pembangunan yang dilakukan pemerintah. 

Ketika Lampu Berwarna Merah memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 1980. Karya ini merefleksikan kehidupan para gelandangan dan kaum yang tergusur di Jakarta.



(ALB)