Alat Deteksi Anak Krakatau Dipasang di Tiga Pulau

Media Indonesia    •    Sabtu, 29 Dec 2018 09:46 WIB
Gunung Anak Krakatau
Alat Deteksi Anak Krakatau Dipasang di Tiga Pulau
Foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau/ANT/Nurul

Banten: Pemerintah segera memasang alat deteksi tsunami atau early warning system (EWS) di Pulau Sertung, pulau yang berada di perairan dekat wilayah Lampung.

"Kami memasang EWS di tiga pulau dekat Gunung Anak Krakatau, di antaranya Pulau Sertung," kata Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjahitan, saat meninjau posko tsunami dan lokasi pengungsian di Mutiara Carita, Banten, Jumat, 28 Desember 2018.

Pemasangan alat deteksi tsunami itu, lanjut Luhut, untuk meminimalisasi jatuhnya korban ketika bencana terjadi. "Sirene pada alat itu berbunyi ketika air pasang. Masyarakat bisa segera mengungsi ke tempat aman untuk menghindari tsunami. Masyarakat harus tetap tenang karena ada BMKG dan BNPB yang memantau."

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan memastikan pos pengamatan Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, berfungsi maksimal.

"Sejak status Anak Krakatau ditetapkan menjadi level III (siaga), Kamis (27/12), terus dipantau intensif oleh Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG). Perkembangan setiap menit dipantau dari sini," ujar Jonan saat melakukan inspeksi di Pos Pengamatan Anak Krakatau.

Sepanjang hari kemarin, Anak Krakatau teramati mengeluarkan 15 letusan dengan tinggi bervariasi 200 hingga 3.000 meter dan warna asap berwarna hitam.

Dalam rilisnya staf PVMBG Pos Pengamatan Anak Krakatau, Deny Mardiono, menyampaikan laporan periode 28 Desember 2018, pukul 12.00 hingga 18.00 WIB.

Aktivitas kegempaan letusan sebanyak 27 kali dengan amplitudo 12-25 mm, serta durasi 32-211 detik. Tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 4-25 mm (dominan 10 mm).

Hasil analisis BMKG menunjukkan adanya aktivitas seismik atau gelombang yang mendeteksi gempa di Anak Krakatau kemarin pukul 05.11 WIB. Gempa itu memiliki magnitudo 3,0 magnitude yang berpusat di koordinat 6,08 LS dan 105,41 BT di kedalaman 1 kilometer. Namun, tidak berpotensi tsunami.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah korban meninggal akibat tsunami mencapai 426 orang.

"Sebelumnya, kami sempat sampaikan korban meninggal itu 430 orang. Ternyata ada yang terdata ganda," kata Sutopo.

Selain korban meninggal, lanjut Sutopo, sebanyak 23 orang juga dilaporkan masih hilang, 7.202 lainnya luka-luka, dan 40.386 orang mengungsi di berbagai tempat yang tersebar.



(ALB)