Korban Kecelakaan Maut di Tangerang Membaik

Farhan Dwitama, Hendrik Simorangkir    •    Senin, 26 Nov 2018 16:53 WIB
kecelakaan lalu lintas
Korban Kecelakaan Maut di Tangerang Membaik
Tim Dokter RS Sari Asih Ciledug yang menangani korban kecelakaan rombongan santri. Medcom.id/Farhan Dwitawam

Tangerang:  Tim medis RS Sari Asih Ciledug, Kota Tangerang, Banten, memastikan korban kecelakaan maut rombongan santri yang dirawat semakin membaik. Namun, tim dokter meminta pasien dan keluarga bersabar.

Tim menyebut pasien yang menjalani pengobatan umumnya mengalami trauma kepala, dada, perut, pinggul dan patah tulang. "Sampai pagi ini, semua sudah mulai ada perbaikan. Tapi kita masih memantau,” kata perwakilam tim dokter di IGD RS Sari Asih, Anggarian Harahap, Senin, 26 November 2018.

Enam korban kecelakaan mobil Kijang Pikap B9029 RV yang dikemudikan RFA, 18, itu masih dalam penanganan intensif RS Sari Asih Ciledug. Kondisi korban membaik dan sudah sadarkan diri.

"Tapi ada juga beberapa yang harus menjalani perawatan intensif,” kata dia.

Korban yang merupakan santri Pondok Pesantren Miftahul Huda, Semanan, Jakarta Barat ini
baru bisa dibawa pulang keluarga setelah dirawat tiga sampai lima hari ke depan. Pasien terluka berat belum bisa ditentukan kapan dapat pulang.

"Mereka harus istirahat total dan dirawat dokter syaraf, dan jika diperlukan kita perbantukan dokter lain," ucap dia.

Tiga korban dibawa ke RS dalam kondisi tak sadarkan diri.

Tulang retak

Raka Alharist, 14, satu dari 20 santri selamat kecelakaan maut di flyover Green Lake, Cipondoh, Kota Tangerang, mengalami retak di sekujur tubuhnya. Kondisinya saat ini telah berangsur pulih setelah dilakukan penindakan operasi oleh tim dokter rumah sakit.

"Kondisi anak saya sekarang sudah siuman tapi masih dalam penanganan khusus," ujar ayah Raka, Arief Ramdhani, di Rumah Sakit Sari Asih, Ciledug, Kota Tangerang, Senin, 26 November 2018.

Putranya mengalami sejumlah luka retak di bagian lengan kanan dan kiri, sobek di bagian pipi dan bagian kecil lainnya.

"Kondisi anak saya tangannya dua-duanya retak dan untungnya tidak ada pendarahan di otak, tapi tulang pipi muka hancur dan sudah di operasi," kata Arief.



Ayah korban kecelakaan, Arief Ramdhani di Rumah Sakit Sari Asih, Ciledug, Kota Tangerang. Medcom.id/Hendrik Simorangkar

Menurutnya, hingga saat ini keluarganya sedang menunggu keputusan dari pihak rumah sakit untuk melanjutkan perawatan putranya atau dirujuk ke rumah sakit lain.

Arief menambahkan, pihaknya ingin masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan dengan pihak pondok pesantren.

"Dari pihak keluarga, tidak ada tuntutan. Kita semua ini adalah keluarga dan menganggap semua yang terjadi karena kehendak Allah dan menganggap semua musibah," jelas Arief.

Arief pun menginginkan, kejadian yang memakan 20 korban luka berat dan ringan tersebut melalui cara kekeluargaaan. Sebab, sopir mobil pikap yang terguling tersebut juga merupakan santri ponpes Miftahul Huda.

"Saya juga berharap pihak kepolisian tidak memperpanjang kejadian ini, sebisa mungkin kita selesaikan secara kekeluargaan karena semuanya santri di dalamnya termasuk sopirnya," ucap Arief.

Sebelumnya, terjadi kecelakaan tunggal mobil pikap yang ditunggangi 23 santri dari Miftahul Huda menabrak pembatas jalan dan terguling di flyover Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang.

Kecelakaan yang terjadi pada Minggu, 25 November 2018, merenggut tiga korban santri dari Pondok Pesantren Miftahul Huda.





 


(SUR)