Sukabumi Menunggu Masjid Wisata Ujung Genteng

Fitra Iskandar    •    Selasa, 08 Nov 2016 18:58 WIB
Sukabumi Menunggu Masjid Wisata Ujung Genteng
Gambar rancangan masjid wisata Ujung Genteng. (Foto:IST)

Metrotvnews.com, Sukabumi:  Masyarakat Kabupaten Sukabumi sedang menunggu-nunggu pembangunan  sebuah masjid wisata yang rencananya didirikan di atas laut. Kehadiran masjid ini akan menjadi salah satu ikon pariwisata Kecamatan Ciracap.

Rencananya,  masjid tersebut akan berdiri di sebelah barat dermaga peninggalan Belanda yang ada di Desa Ujung Genteng Kecamatan Ciracap. Bangunannya didesain berdiri 30 meter menjorok ke arah laut dengan arsitektur yang  menonjolkan tema pesisir.  

Meski di lokasi itu, tidak ada ombak besar, bangunan masjid didesain memiliki ketinggian lantai tiga meter di atas permukaan ombak, dan berbentuk seperti penyu.

“Detilnya, kami masih mengacu pada ahli, tepatnya seperti apa. Bagi kami, kami  tidak terlalu fokus mengenai bentuk dan struktur masjid, tetapi yang penting bagaimana masjid terwujud,” ujar  Ketua SC pengusul pembangunan masjid wisata Ujung Genteng, Henda Peribadi kepada Metrotvnews.com di Kabupaten Sukabumi, Minggu (6/11/2016).



Secara teknis, pembangunan masjid di titik tersebut, menurut Henda, tidak memerlukan pertimbangan Amdal, melainkan hanya UPL – UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).

Keinginan membangun masjid terapung ini semakin diperkuat dengan pencanangan rencana pembangunan masjid wisata tersebut oleh unsur pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Ciracap. Acara pencanangan bertepatan dengan pembukaan Seleksi Tilawatil Quran Kabupaten Sukabumi, di Desa Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap pada Sabtu 5 November.



Menurut  Henda, pembangunan masjid berkapasitas sekitar 400 orang itu diperkirakan memakan biaya sekitar Rp10 miliar.  Namun pihak Pemprov Jawa Barat menaksir biayanya akan lebih dari angka tersebut yakni sekitar Rp15 miliar.

“Pelaksanaan pembangunannya ada dua opsi, apakah kami menjadi pengusul saja dan semua ditangani Pemprov, karena biayanya besar, atau kami yang garap dengan bantuan dari mana pun. Tetapi bagi kami itu tidak penting,” kata Henda.

“Yang jelas semua sudah  on the track, semua kepentingan sudah tahu ketika (dikemukakan) saat Festival Geopark (Ciletuh) dua bulan lalu,” lanjutnya.



Para pengusul yang juga terdiri dari ormas dan pemuka agama di Ciracap, menurut Henda tidak mempermasalahkan siapa yang akan mengelola pembangunan masjid, yang penting masyarakat Ciracap memiliki masjid yang representatif di kawasan Ujung Genteng. Sebab, wisatawan pun selama ini kesulitan bila ingin ke masjid ketika bewisata di Ujung Genteng.

Masyarakat berkeinginan mewarnai lingkungan wisata yang lebih berbasis halal dan bernuansa religi.  “Jadi kalau orang pergi ke daerah Ciracap atau daerah selatan itu orang mengenal, ‘Oh ini yang ada masjid wisatanya ya. Jadi Ujung Genteng bukan hanya dikenal karena ramai berjajar kafenya,” ujar dia.

Dengan  adanya program geopark, dan berkembangnya daerah tersebut sebagai destinasi wisata nasional, menurut Henda  masyarakat khawatir akan dampak negatif pariwisata. “Sebab itu kultur masyarakat yang bernuansa religi harus tetap dipertahankan,” tutur Henda.

“Kami tidak masalah siapa yang kelola pembangunannya. Yang penting, kami punya masjid. Itu juga sebagai bagian dari menangkal dampak pariwisata yang kurang bagus. Itu saja targetnya," paparnya.
(FIT)