Kawin Kontrak Jadi Modus Kerja Paksa di Tiongkok

P Aditya Prakasa    •    Kamis, 26 Jul 2018 15:27 WIB
perdagangan manusia
Kawin Kontrak Jadi Modus Kerja Paksa di Tiongkok
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kombes Pol Umar Surya Fana. (Medcom.id/Aditya Prakasa)

Bandung: Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditkrimum) Polda Jawa Barat tengah berupaya memulangkan 12 perempuan yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ke Tiongkok. Saat ini polisi masih berkoordinasi dengan Interpol juga Kementrian Luar Negeri (Kemenlu).

Direktur Ditkrimum Polda Jawa Barat, Kombes Pol Umar Surya Fana, mengatakan perdagangan manusia dengan cara kawin kontrak merupakan modus baru. Pihaknya mengalami kendala untuk memulangkan ke-12 korban.

"Kendalanya aturan hukum, di China korban sudah dinyatakan nikah resmi dengan orang sana. Ini sedang didiskusikan dengan KBRI di China, tapi prinsipnya sudah minta hasil periksa di sini bahwa mereka korban TPPO," kata Umar di Markas Polda Jawa Barat, Kota Bandung, Kamis, 26 Juli 2018.

Umar mengungkap, para tersangka yaitu YH, GCS, V, dan TMK, menjanjikan korbannya bakal dijadikan duta seni dan mendapatkan gaji setiap bulannya. Namun kenyataannya, para korban dikawin kontrak di China.

"Saat diposisikan sebagai istri, mereka dijadikan pekerja paksa di perkebunan dan sebagainya. Tidak jadi PSK, tapi dinikahkan, itu pun digilir dan kerja paksa. Intinya sudah terjadi TPPO," tegasnya.

Baca: Belasan Wanita Jabar Dijual ke Tiongkok

Umar mentotal, sebanyak 18 perempuan telah menjadi korban perdagangan orang. Pihaknya telah berhasil menyelematkan lima perempuan, yakni tiga orang berasal dari Jawa Barat dan dua lainnya dari Jawa Timur. 

"Untuk 12 orang lainnya kadung take off hingga enggak terkejar. Selain 12 itu, ada satu orang masih di bawah umur karena masih 15 tahun, kita konsentrasi untuk dikembalikan karena bukan TPPO tapi Undang-undang Perlindungan Anak," ujar dia.

Dia mengungkap, dari pengakuan tersangka baru memberangkatkan 18 orang. Namun, penyidik tak percaya. Pasalnya, aktivitas para tersangka telah terjadi sejak satu tahun lalu. 

"Kalau lihat waktu satu tahun rasanya kok kami duga lebih dari itu, makanya akan dibuktikan 18, atau lebih," ucapnya.


(LDS)