Mesin Parkir di Bandung Diklaim Dongkrak Retribusi

Roni Kurniawan    •    Selasa, 08 May 2018 18:25 WIB
perparkiranparkir elektronik
Mesin Parkir di Bandung Diklaim Dongkrak Retribusi
Juru parkir di Jalan Burangrang, Kota Bandung memberitahu cara menggunakan mesin parkir ke pengguna kendaraan, Selasa 8 Mei 2018. Medcom.id/Roni Kurniawan

Bandung: Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung Didi Ruswandi menyebut Terminal Parkir Elektronik (TPE), atau mesin parkir, solusi terbaik dan telah banyak diterapkan oleh kota-kota di dunia. Penggunaan mesin parkir diklaim mendongkrak retribusi Pemkot Bandung.

Sejak diluncurkan pada Agustus 2017, pendapatan dari retribusi parkir elektronik mencapai Rp72,7 juta per bulan. Bahkan pada September 2017, pendapatan melonjak menjadi Rp 227,9 juta.

Sementara pendapatan parkir elektronik November 2017 sebesar Rp439,9 juta. Di atas pendapatan parkir manual sebesar Rp326,8 juta.

Tren pendapatan dari retribusi mesin parkir elektronik cenderung meningkat. Pada April 2018, pendapatan dari retribusi dari mesin parkir pun meningkat menjadi Rp525,4 juta.

Melihat tren ini, Dishub Bandung optimistis pendapatan TPE akan terus membaik. Walay pendapatan belum sebanding dengan investasi.

"Tapi hal tersebut bisa dibilang wajar karena break even point investasi semacam ini tak mungkin bisa terjadi dalam waktu setahun," ujar Didi di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa 8 Mei 2018.

Didi memperbaiki sistem pengelolaan mesin parkir salah satunya dengan membina para juru parkir. Saat ini terdapat 600 juru parkir yang beroperasi untuk mesin parkir.

"Para juru parkir ini mengikuti pelatihan agar bekerja secara profesional dan berintegritas. Selain itu, ada 24 orang pengawas yang memastikan sistem di lapangan berjalan dengan baik," pungkas Didi.

Sementara itu, di Kota Bandung telah terdapat sebanyak 445 mesin parkir yang disebar di 57 titik. Pengadaan mesin tersebut dilakukan melalui sistem e-katalog dan memakan biaya Rp57 miliar.
 


(SUR)