Petahana Diprediksi Masih Unggul dalam Pilkada Bogor 2018

Rizky Dewantara    •    Rabu, 27 Jun 2018 06:39 WIB
pilkada serentakpilkada 2018
Petahana Diprediksi Masih Unggul dalam Pilkada Bogor 2018
suasana ketika Bima Arya dan Dedie A Rachim terlibat langsung bersama bocah-bocah bermain bersama permainan tradisional di Kampung Warna Warni Katulampa, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. . Foto: Istimewa/Dede Susianti.

Bogor: Hasil survei Charta Politika Indonesia periode Juni 2018 menujukan elektabilitas pasangan inkamben Bima Arya Sugiarto-Dedie A Rachim masih unggul 59,8 persen.

Sedangkan di bawahnya, ada pasangan Achmad Ru’yat-Zainul Mutaqin (RZ) yang memperoleh 18,0 persen suara. Sementara dua calon lainnya Edgar Suratman-Sefwelly Ginandjar serta Dadang Danubrata-Sugeng Teguh Santoso elektabilitasnya masih di bawah angka 5 persen.

Manager Riset Charta Politika, Muslimin Tanja menjelaskan, dari survei yang terakhir dilakukan pihaknya pada Juni 2018 menunjukan bahwa elektabilitas inkamben masih sangat kuat. 

"Bahkan hampir 60 persen hasilnya. Dan hasil survei itu tidak jauh berbeda dari survei periode sebelumnya pada Maret 2018. Inkamben Bima-Dedie persentasenya masih sangat tinggi," kata Muslimin saat dihubungi Medcom.id, Selasa, 26 Juni 2018.

Muslimin menambahkan, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kota Bogor tergolong tinggi, yakni berada di atas 70 persen dan tersebar merata di 6 wilayah kecamatan yang ada di Kota Bogor. 

"Di atas kertas ketika survei kepuasan publik terhadap inkamben itu tinggi, di atas 70 persen. Biasanya cenderung akan terpilih kembali, masyarakat sudah melihat prestasi apa yang sudah dilakukan dan merasa puas," jelas Muslimin.

Dalam survei ini, Charta Politika menghimpun sampel 400 responden, margin of error 4.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel dipilih sepenuhnya secara acak (probability sampling) dengan menggunakan metoda penarikan sampel acak bertingkat (multistage random sampling), dengan memperhatikan urban/rural dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah penduduk di tiap kecamatan di Kota Bogor.

Muslimin juga menyebut, tidak mudah mengubah persepsi publik dalam waktu singkat, bahkan dengan serangan black campaign sekalipun. Kecuali, ketika tiba-tiba salah satu calon yang kuat tertangkap KPK, seperti di daerah Subang.

"Elektabilitas inkamben saat itu sangat kuat tapi saat kami survei kembali langsung anjlok. Jadi kalau baru sekedar isu atau black campaign saya kira itu tidak terlalu beprengaruh. Masyarakat sudah cerdas," jelas Muslimin.

Selain itu, lanjut dia, pemilih di Kota Bogor relatif merupakan pemilih rasional serta kelas menengahnya cukup tinggi dan linier dengan tingkat keinginan publik untuk terpilihnya kembali Bima Arya.

"Itulah yang saya katakana tadi, tidak mudah merubah persepsi dalam waktu yang singkat. Indikator lain adalah tingkat kemantapan pemilih terhadap incumbent juga sangat tinggi artinya soliditas, loyalitas atau strong voters sangat tinggi. Sehingga serangan apalagi yang sifatnya hanya isu dan kampanye hitam saya kira itu tidak bisa kemudian publik begitu saja bisa mengubah persepsinya," pungkas Muslimin.

Diketahui, Charta Politika Indonesia merupakan salah satu lembaga survei dan konsultan politik yang terdaftar dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi).

Dalam Pilkada Serentak pada 27 Juni 2018 nanti pihaknya akan melakukan ‘Quick Count’ mulai jam 13.00 WIB hingga selesai dan disiarkan secara langsung di Metro TV, CNN Indonesia, Trans TV, RTV, Narasi. Serta media online nasional seperti Detik.com, Liputan6.com, Asumsi, Tempo.co, dan Kumparan.


(DEN)