Rektor IPB Mengaku Dirugikan Pernyataan BNPT

Rizky Dewantara    •    Selasa, 05 Jun 2018 17:20 WIB
Radikalisme di Kampus
Rektor IPB Mengaku Dirugikan Pernyataan BNPT
Gedung Andi Hakim Nasoetion, salah satu bangunan di Kompleks Institut Pertanian Bogor, Ant

Bogor: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria meminta Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mengklarifikasi pernyataan yang menyebutkan tujuh kampus terpapar radikalisme. Arif menegaskan pernyataan BNPT itu kesalahan. IPB merasa dirugikan.

Beberapa waktu lalu, BNPT menyebutkan tujuh kampus sedang dalam pantauan karena terpapar radikalisme. Satu di antaranya IPB yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.

Baca: Lebih dari 7 Kampus Berpotensi Terpapar Radikalisme

"Kami akan terbuka, kami ingin dapatkan klarifikasi dari BNPT terkait 7 nama perguruan tinggi yang muncul. Supaya fair, kriterianya apa, metodenya bagaimana, pengambilan datanya seperti apa, bahwa hasil dari BNPT merupakan penelitian," ujar Arif memberikan santunan kepada anak yatim di kampus IPB Dramaga Bogor, Jawa Barat, Selasa, 5 Juni 2018.

Pernyataan itu, lanjutnya, mengakibatkan kondisi tak kondusif. Apalagi, BNPT belum mengklarifikasi pernyataan itu langsung ke IPB.

"Tapi, kami akan mendukung dan kooperatif dengan pihak-pihak otoritas negara. IPB akan mendukung hal apa pun untuk melindungi negara. Khususnya masyarakat Indonesia, kami akan mendukung keamanan, kedamaian, dan kenyamanan," terang dia.

Maka dari itu, jika energinya saling percaya antara pihak kampus dan BNPT, pihaknya yakin akan kuat menghadapi masalah teroris secara bersama.

Arif berharap BNPT dapat memanggil seluruh pemimpin perguruan tinggi untuk bisa menyampaikan informasi secara utuh. "Sehingga kita bisa mencermati karena kampus IPB harus terbuka terhadap masukan, kritikan, terkadang kami tidak ada di lapangan. Jika ada temuan-temuan yang janggal silakan laporkan terhadap kami," tegas Arif.

Meski demikian, Arif menegaskan IPB merupakan perguruan tinggi yang mendidik mahasiswa untuk berakhlak mulia dan taat beragama. Sehingga IPB menciptakan suasana yang religius dan nasionalis di dalam kampus.

"Jangan sampai ada stigma yang aneh, semisal ada mahasiswa yang mengaji dan salat di masjid disangka radikal," cetusnya.

Upaya kampus IPB untuk menangkal paham radikal dengan cara menguatkan pendidikan multibudaya di asrama untuk tingkat semester satu dan dua.

"Dalam kurikulum nanti, akan ada kegiatan-kegiatan di lapangan untuk mengembangkan karakter mahasiswa. Desain secara sistematis itulah yang mungkin akan membantu peran mahasiswa untuk memajukan bangsa," tuntasnya.



(RRN)