Membaca Dinamika Politik Pilkada Jabar

   •    Rabu, 13 Sep 2017 10:20 WIB
pilkada jabar
Membaca Dinamika Politik Pilkada Jabar
Pengamat Politik Burhanudin Muhtadi. (Foto: MI/Adam Dwi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat Politik Burhanudin Muhtadi menyebut dinamika politik pilkada Jawa Barat masih sangat cair. Jika bicara peta politik hari ini, semua kemungkinan bisa terjadi.

Misalnya, di luar dugaan, Gerindra mencabut dukungannya kepada Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu, sementara PKB menyatakan akan mendukung Ridwan Kamil pada Pilkada 2018 nanti.

Belum lagi PDIP yang punya suara 20 kursi, bisa mengusung calon sendiri dan Golkar yang akan lebih mudah mendapatkan satu koalisi, membuat nama-nama calon yang akan muncul dalam Pilkada Jabar akan bertambah.

"Kalau bicara peta politik hari ini bisa 4-5 calon yang diusung partai, meskipun nama-nama yang muncul masih belum definitif," ujar Burhan dalam Primetime News, Selasa 12 September 2017.

Dari nama-nama yang muncul seperti Deddy Mizwar, Ridwan Kamil, dan Dedi Mulyadi, Burhan membuat perhitungan apabila Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi maju, maka yang akan diuntungkan adalah Deddy Mizwar.

Mengapa? Karena suara atau captive market Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi terdapat irisan. Burhan menyebut, dari data survei SMRC misalnya, jika tiga nama itu diuji maka selisih suara antara Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi akan menipis meskipun Deddy Mizwar berada di urutan ketiga.

"Tetapi kalau Dedi Mulyadi tidak maju yang untung adalah Ridwan Kamil, begitupun sebaliknya. Jadi seperti porsi kue kalau captive-nya sama, Deddy Mizwar akan leading sendiri. Itu yang akan terjadi," kata Burhan.

Burhan menilai, peluang inilah yang masih harus dihitung, sebab bagaimanapun partai-partai belum menentukan calon secara definitif. Kecuali misalnya Nasdem yang sejak awal solid mendukung Ridwan Kamil.

"Tentu ujungnya adalah keputusan akhir DPP karena mereka lah yang punya hak dan kewenangan menentukan siapa calonnya," ungkapnya.

Dukungan elit politik

Belum lagi jika bicara dukungan di kalangan elit politik dan waktu yang masih terlampau jauh. Prediksi siapa saja calon yang akan maju akan lebih rumit. Sebab umumnya, kalangan elit politik lebih menyukai injury time saat mengusung calon.

Jika mengikuti politik massa atau elektoral, akan lebih mudah menentukan siapa yang akan didukung. Tetapi dalam politik, terutama di tingkat elit soal dukungan bukan semata-mata karena basis massa pro kepada si A atau si B, tetapi ada faktor lain yang dipertimbangkan.

"Kadang persoalan psikologis, atau persoalan yang oleh sebagian aktivis LSM disebut uang perahu. Ini jadi sebab kenapa partai-partai belum menentukan nama secara definitif," katanya.

Mengacu pada Pilkada DKI Jakarta, kemungkinan muncul nama baru pun sangat terbuka. Burhan Mencontohkan, nama Anies Baswedan muncul di detik-detik akhir sedangkan Yusril yang sempat sowan ke partai-partai justru tak mendapat tiket.

"Perilaku politik di tingkat bawah itu lebih mudah diprediksi ketimbang politik di tingkat elit. Karena variabelnya rumit, peta politik di kalangan elit lebih sulit diprediksi," jelasnya.




(MEL)